Gemuruh guntur yang saling bersahutan di langit Jakarta terdengar jauh lebih menggelegar di dalam keheningan Mansion Takizaki yang megah. Bangunan bergaya arsitektur klasik modern itu berdiri kokoh di atas lahan berhektar-hektar, dikelilingi oleh taman-taman yang tertata rapi, yang kini tengah dihajar oleh sisa-sisa badai yang ganas. Di dalam ruang tamu utama yang langit-langitnya dihiasi oleh lampu kristal chandelier bernilai miliaran rupiah, suasana terasa sangat mencekam—bukan karena cuaca di luar, melainkan karena kegelisahan yang memancar dari sosok wanita yang kini tengah mondar-mandir di atas karpet Persia buatan tangan yang sangat tebal.
Zakiyah Emberlyn, atau yang lebih dikenal dengan nama Kiya oleh orang-orang terdekatnya, tidak bisa tenang. Wanita yang masih terlihat sangat cantik dan elegan di usia senjanya itu terus-menerus melirik ke arah jam dinding kuno berlapis emas yang terus berdentang secara ritmis. Jarum jam menunjukkan angka setengah delapan malam, dan putra semata wayangnya, Lewis, belum juga memberikan kabar. Zakiyah meremas kedua tangannya yang dingin, sesekali merapikan pashmina sutra yang tersampir di bahunya, meskipun suhu di dalam rumah sudah diatur dengan sangat nyaman oleh pemanas ruangan.
"Kenapa dia belum pulang juga? Harusnya jadwal kuliahnya sudah selesai sejak dua jam yang lalu," gumam Zakiyah dengan suara yang bergetar.
Setiap kali kilat petir menerangi jendela kaca besar yang menjulang tinggi, jantung Zakiyah seolah ikut melompat. Ia berjalan menuju jendela, menatap ke arah gerbang utama yang masih tertutup rapat di kejauhan. Hanya ada kegelapan dan tirai hujan yang membatasi pandangannya. Bagi Zakiyah, Lewis adalah segalanya. Setelah segala badai yang ia lalui di masa lalu bersama Jayden, Lewis adalah permata yang paling ia jaga dengan nyawanya sendiri. Sifat protektifnya seringkali dianggap berlebihan oleh orang lain, namun bagi Zakiyah, dunia di luar sana terlalu berbahaya untuk putra kebanggaannya.
Zakiyah mengambil ponselnya yang terletak di atas meja marmer, mencoba menghubungi nomor Lewis untuk yang ke sekian kalinya. Namun, yang ia dapatkan hanyalah suara operator yang menyatakan bahwa nomor tersebut sedang tidak dapat dihubungi. Kemungkinan besar karena gangguan sinyal akibat badai, atau mungkin Lewis sedang mengemudi di jalur yang tidak memiliki jangkauan yang baik.
"Badai ini sangat mengerikan ... bagaimana kalau terjadi sesuatu di jalan? Bagaimana kalau mobilnya terjebak banjir?" Zakiyah mulai membayangkan skenario terburuk. Pikirannya melayang pada berita-berita kecelakaan yang sering ia lihat di televisi. Ketakutannya bukan tanpa alasan; Lewis adalah tipe pria yang sangat keras kepala dan perfeksionis. Ia tahu putranya itu tidak akan membiarkan badai menghalangi niatnya untuk pulang atau menyelesaikan urusannya.
Seorang pelayan senior mendekat dengan baki perak berisi teh chamomile hangat, mencoba menenangkan nyonya besarnya. "Nyonya, silakan diminum dulu tehnya. Tuan Muda Lewis adalah pengemudi yang handal, dan mobilnya adalah kendaraan paling aman di dunia. Tidak akan terjadi apa-apa padanya."
Zakiyah hanya melirik teh itu tanpa minat. "Kamu tidak mengerti, Bi. Badai kali ini berbeda. Anginnya sangat kencang, pohon-pohon di depan saja sampai melengkung seperti itu. Lewis itu anak yang tidak mau mengalah pada keadaan. Dia pasti tetap memaksakan diri."
Langkah kaki Zakiyah kembali bergema di ruangan yang sunyi itu. Ia teringat masa kecil Lewis, bagaimana ia selalu berusaha melindungi putranya itu dari setiap goresan kecil. Baginya, Lewis adalah bayi kecilnya yang kini telah tumbuh menjadi pria dewasa yang hebat, namun di matanya, Lewis tetaplah sosok yang harus ia awasi setiap langkahnya. Kedekatan mereka memang sangat emosional, namun belakangan ini Zakiyah merasa Lewis semakin menjauh, semakin tenggelam dalam dunianya sendiri sebagai dosen dan calon penerus bisnis keluarga.
Pikiran Zakiyah kemudian beralih pada Aluna. Gadis itu, yang ia anggap sebagai rasa iba masa lalunya, adalah satu-satunya harapan Zakiyah untuk bisa terus memantau Lewis. Zakiyah percaya bahwa jika Lewis bersanding dengan Aluna, ia akan lebih tenang karena Aluna adalah gadis yang patuh dan sangat mencintai Lewis—setidaknya itulah yang tampak di permukaan. Kecemasan Zakiyah malam ini bukan hanya soal cuaca, tapi juga soal ketidakpastian masa depan Lewis yang belum juga menunjukkan tanda-tanda ingin menetap dalam sebuah komitmen pernikahan.
"Apa dia masih di kampus? Apa ada pekerjaan yang sangat mendesak?" Zakiyah terus bergumam. Ia bahkan sempat terpikir untuk menyuruh supir pribadi dan tim keamanan Takizaki untuk menjemput Lewis, namun ia tahu Lewis akan sangat marah jika ia melakukan itu. Lewis sangat menghargai privasi dan kemandiriannya, dan Lewis tidak suka jika ibunya memperlakukannya seperti anak kecil di depan staf-stafnya.
Zakiyah berhenti di depan sebuah foto keluarga besar yang tergantung di dinding ruang tamu. Di sana, Lewis tampak berdiri tegak di antara dirinya dan Jayden. Lewis memiliki mata Jayden yang tajam namun memiliki kelembutan tersembunyi yang ia warisi darinya. Zakiyah mengusap bingkai foto itu dengan lembut. "Cepatlah pulang, Sayang. Mama tidak bisa tidur kalau kamu belum berada di dalam rumah ini."
Kegelisahan Zakiyah terus memuncak seiring dengan detik jam yang terasa melambat. Ia bahkan mulai menghitung berapa kali petir menyambar, seolah setiap kilatan itu adalah ancaman langsung bagi keselamatan Lewis. Sifat protektif Zakiyah adalah bentuk cinta yang mencekik, sebuah kasih sayang yang berakar dari trauma masa lalu dan obsesi untuk memastikan tidak ada lagi anggota keluarga Takizaki yang terluka. Di matanya, Lewis adalah pusat dari tata surya kehidupannya, dan jika terjadi sesuatu pada Lewis, maka seluruh dunianya akan runtuh seketika.
Ia berjalan kembali ke arah sofa beludru, namun urung untuk duduk. Ia merasa jika ia duduk, maka sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia harus tetap bergerak, tetap terjaga, menjadi penjaga yang setia menanti kepulangan sang putra mahkota. Zakiyah tidak tahu bahwa di saat yang sama, putra mahkotanya itu baru saja meninggalkan seorang mahasiswi di sebuah apartemen kumuh dengan perasaan yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar badai hujan.
Zakiyah kembali menatap pintu utama yang masif, terbuat dari kayu jati berukir yang sangat berat. Ia membayangkan pintu itu terbuka dan Lewis masuk dengan wajah datarnya yang khas, melepaskan jasnya dan mencium keningnya untuk meredakan kecemasannya. Harapan itu adalah satu-satunya hal yang membuat Zakiyah tetap berdiri tegak di tengah malam yang mencekam ini. Namun, hingga saat ini, yang terdengar hanyalah suara angin yang melolong pilu di balik dinding-dinding mansion yang dingin.
Ibu satu anak itu akhirnya memutuskan untuk berjalan ke arah tangga besar yang melingkar, berniat menuju kamar suaminya untuk mencari kekuatan, namun ia terhenti di tengah anak tangga. Ia melihat bayangan seseorang muncul dari arah koridor atas, sebuah sosok yang memiliki aura kekuatan yang jauh lebih tenang namun mengintimidasi dibandingkan dirinya. Itu adalah Jayden, pria yang tahu benar bahwa putra mereka bukan lagi anak kecil yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan, namun Zakiyah tetaplah Zakiyah, seorang ibu yang hatinya terikat erat pada setiap embusan napas Lewis.
Cemas, posesif, dan penuh kasih—tiga hal itu bercampur aduk dalam diri Zakiyah malam ini, menciptakan badai tersendiri di dalam hatinya yang tak kalah dahsyat dari badai yang sedang melanda Jakarta. Ia terus menanti, dengan mata yang tak pernah lepas dari pintu, berharap sang pewaris Takizaki segera menampakkan dirinya.