Apartemen Sederhana.

975 Kata
​Lampu-lampu jalanan yang temaram menyapu bodi hitam mengilat mobil mewah itu saat ia perlahan memasuki kawasan pemukiman yang jauh dari kemewahan pusat kota. Jalanan di sini lebih sempit, dengan aspal yang berlubang dan genangan air keruh yang terciprat setiap kali ban besar mobil mewah itu melewatinya. Kairi Takemi merasa jantungnya semakin tidak keruan saat melihat gedung apartemen tuanya sudah terlihat di ujung jalan. Gedung itu tampak kusam di bawah guyuran hujan, dengan dinding beton yang mulai berlumut dan kabel-kabel listrik yang menjuntai tidak beraturan di antara tiang-tiang beton yang miring. ​Bagi Kairi, ini adalah rumah. Namun bagi Lewis, tempat ini jelas terlihat seperti dimensi lain yang tidak seharusnya ia injak. Lewis menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang besi yang sudah sedikit berkarat. Suasana di sekitar apartemen itu sangat sepi, hanya ada suara rintik hujan yang kini mulai mereda menjadi gerimis, namun sisa-sisa angin dingin masih menusuk. ​Kairi bergerak canggung, hendak melepaskan sabuk pengamannya. "Terima kasih banyak, Pak Lewis. Maaf sudah sangat merepotkan Bapak sampai harus mengantar saya ke tempat sejauh ini." ​Lewis tidak menjawab. Ia justru mematikan mesin mobil, membuat kabin yang semula hangat oleh dengung mesin kini menjadi sunyi senyap. Kairi mengira Lewis hanya akan menunggunya turun, namun ia terkejut saat melihat pria itu membuka pintu kemudi dan keluar ke tengah sisa-sisa hujan. Kairi terpaku di kursinya, matanya melebar saat melihat sosok jangkung Lewis berjalan memutari kap mobil dengan langkah yang tenang namun berwibawa, seolah-olah lumpur di jalanan itu tidak berani menyentuh sepatu pantofel mahalnya. ​Klik. ​Pintu di sisi Kairi terbuka. Lewis berdiri di sana, menahan pintu dengan satu tangan sementara tangan lainnya ia masukkan ke saku celana kainnya yang tampak sangat formal. Kairi menelan ludah, merasa sangat kecil saat ia harus keluar dan berdiri di hadapan dosennya yang menjulang tinggi itu. Bau tanah basah dan udara dingin langsung menerjang, namun aroma maskulin Lewis yang tertinggal di jas yang masih tersampir di bahu Kairi terasa lebih mendominasi. ​Lewis tidak langsung mempersilakan Kairi masuk. Ia justru berdiri diam, mengangkat kepalanya sedikit untuk menatap gedung apartemen bertingkat empat di hadapannya. Matanya yang tajam menyisir deretan balkon sempit yang penuh dengan jemuran pakaian yang ditutupi plastik, unit AC luar yang berisik dan berkarat, serta tangga beton yang tampak lembap dan gelap. Ada kilat penghinaan yang tidak berusaha ia sembunyikan di balik tatapan matanya yang dingin. ​"Kamu tinggal di tempat kumuh seperti ini?" tanya Lewis. Suaranya rendah, namun nada meremehkan itu terdengar sangat jelas. Bagi pria yang tumbuh di mansion seluas lapangan bola, tempat tinggal Kairi mungkin lebih mirip kandang daripada hunian manusia. ​Kairi menundukkan kepala, jari-jarinya meremas ujung kemejanya yang masih lembap. "Ini ... ini tempat yang paling dekat dengan kampus dan harganya terjangkau dengan gaji kerja paruh waktu saya, Pak." ​Lewis kembali menatap gedung itu, lalu beralih menatap Kairi dengan tatapan yang sangat intens. Ia seolah tidak habis pikir bagaimana mahasiswi secantik dan sejenius Kairi bisa membiarkan dirinya hidup di lingkungan yang tidak aman seperti ini. Bayangan pria-pria asing yang mungkin berpapasan dengan Kairi di tangga yang gelap itu membuat rahang Lewis kembali mengeras. ​"Tempat ini sama sekali tidak layak untukmu," gumam Lewis lebih kepada dirinya sendiri. ​Kairi merasa sedikit tersinggung, namun ia terlalu lelah untuk berdebat. "Sekali lagi terima kasih, Pak. Saya permisi masuk dulu." ​Ia baru saja hendak melangkah menuju gerbang ketika sebuah tangan yang besar dan hangat mencengkeram lengan atasnya dengan kuat. Kairi tersentak, tubuhnya berputar kembali menghadap Lewis. Sentuhan itu terasa membakar di kulitnya yang dingin. Jarak mereka kini sangat dekat, hingga Kairi bisa mencium aroma oud dan kopi pahit dari napas Lewis yang menerpa wajahnya. ​Lewis menatap Kairi dari atas ke bawah, memastikan jasnya masih menutupi tubuh gadis itu dengan benar. "Dengarkan aku baik-baik, Kairi," ucapnya dengan nada yang tidak menerima bantahan. Bukan lagi nada seorang dosen, melainkan nada seorang penguasa yang sedang memberikan dekrit. "Masuk ke dalam sekarang. Jangan lakukan apa pun sebelum kamu mandi dengan air yang benar-benar hangat. Bersihkan setiap inci sisa air hujan ini dari kulitmu." ​Kairi tertegun, matanya yang besar menatap Lewis dengan bingung. "I-iya, Pak. Saya memang akan mandi." ​"Aku belum selesai," sela Lewis, cengkeramannya di lengan Kairi sedikit mengencang, bukan untuk menyakiti, tapi untuk memastikan perhatian Kairi tidak teralih. "Minum obat pencegah flu dan segera tidur. Aku tidak mau melihatmu bersin atau terlihat pucat di kelasku besok pagi. Jika kamu sakit karena kecerobohanmu malam ini, aku yang akan meminta pertanggungjawaban darimu secara pribadi." ​Nada bicara Lewis terdengar sangat posesif, seolah-olah kesehatan Kairi adalah properti miliknya yang tidak boleh rusak sedikit pun. Kairi merasakan desiran aneh di perutnya—perasaan diintimidasi namun sekaligus merasa dilindungi oleh kehadiran pria dominan ini. Ia hanya bisa mengangguk pelan, tenggelam dalam tatapan gelap Lewis yang seolah ingin mengklaim seluruh eksistensinya. ​"Paham?" tuntut Lewis lagi. ​"Paham, Pak Lewis," bisik Kairi parau. ​Lewis melepaskan lengannya perlahan, namun matanya tetap mengawasi Kairi saat gadis itu mulai berjalan masuk ke dalam area apartemen. Lewis tidak langsung kembali ke mobilnya. Ia berdiri di sana, di samping Rolls Royce-nya yang megah, terus menatap punggung Kairi hingga gadis itu menghilang di kegelapan tangga gedung. Di dalam kepalanya, Lewis sudah membuat keputusan. Ia tidak akan membiarkan Kairi terus berada di tempat sesempit dan sekumuh ini. Obsesinya baru saja mendapatkan tujuan baru: memindahkan Kairi ke tempat yang hanya bisa dijangkau olehnya. ​Malam itu, di bawah sisa-sisa badai Jakarta, sebuah tanda tak kasat mata telah terpatri di tubuh Kairi. Perintah Lewis bukan sekadar nasihat, itu adalah awal dari belenggu emas yang sedang ia siapkan untuk mahasiswi yang telah mengusik ketenangannya. Lewis menginjak pedal gas, meninggalkan kawasan kumuh itu dengan kecepatan tinggi, namun pikirannya tetap tertinggal di unit nomor empat puluh dua, di mana seorang gadis polos sedang mencoba membersihkan sisa-sisa hujan di bawah shower, tanpa menyadari bahwa ia baru saja menjadi pusat dari seluruh dunia Lewis Jaydenson Takizaki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN