Nama Ranu Raksadipura Muncul.

999 Kata
Zakiyah menyeka air matanya dengan ujung jari yang gemetar. "Keluarga ini dibangun di atas tumpukan pengorbanan, Lewis. Harapan Mama adalah melihatmu berdiri tegak di puncak Takizaki Corp, meneruskan nama besar yang telah dijaga dengan darah dan air mata. Apakah kamu akan membuang semua itu begitu saja hanya karena rasa egoismu? Apakah jasa keluarga ini bagimu tidak lebih berharga daripada draf-draf skripsi mahasiswa yang bahkan tidak tahu cara berterima kasih?" ​Suasana di ruangan itu menjadi sangat berat. Senjata emosional Zakiyah menciptakan kabut rasa bersalah yang tebal, mencoba menjerat Lewis dalam jaring hutang budi yang tak berujung. Zakiyah menyebut-nyebut masa lalu, menyebut-nyebut betapa keluarga Takizaki selalu mengutamakan persatuan di atas keinginan individu. Ia mencoba menyudutkan Lewis sebagai sosok anak yang tidak tahu berterima kasih, seorang pewaris yang murtad dari takdirnya sendiri. ​ Jayden, yang sejak tadi duduk diam seperti patung perunggu di ujung meja, hanya mengamati dengan mata yang sangat dalam. Ia melihat bagaimana istrinya sedang berjuang dengan cara yang paling purba, sementara putranya sedang bertahan dengan perisai yang terbuat dari es dan obsesi. Jayden tahu, perdebatan ini tidak akan berakhir dengan cara yang sederhana. Lewis bukan lagi pria yang bisa diluluhkan hanya dengan air mata. ​Lewis menatap ibunya dengan tatapan yang tetap datar, meskipun di dalam dadanya ia merasakan dorongan amarah yang kian memuncak. Bayangan Kairi Takemi yang semalam menggigil di dalam mobilnya kembali melintas, seolah menjadi pengingat bahwa di luar mansion yang kaku ini, ia memiliki sebuah misteri yang ingin ia pecahkan, sebuah objek yang ingin ia kuasai sepenuhnya tanpa campur tangan protokol keluarga. Pikirannya semakin liar; semakin ia ditekan untuk masuk ke kantor pusat, semakin ia merasa harus mempertahankan posisinya di kampus hanya agar ia bisa terus melihat bagaimana Kairi bereaksi terhadap kehadirannya. ​"Egois?" Lewis akhirnya bersuara, nadanya kini setajam silet yang menyayat keheningan. "Jika memiliki jalan hidup sendiri disebut egois, maka aku akan menjadi orang paling egois yang pernah Mama kenal. Mama tidak bisa terus-menerus menggunakan 'jasa keluarga' sebagai senjata setiap kali aku tidak menuruti keinginan Mama. Harapan Mama adalah beban bagiku, bukan masa depan. Dan jika Mama terus memaksaku, Mama hanya akan mendapatkan ragaku di kantor pusat itu, tapi jiwaku akan membenci setiap detik keberadaanku di sana." ​Zakiyah tertegun, napasnya tersengal karena jawaban Lewis yang begitu brutal. Ia menyadari bahwa putranya telah melewati titik di mana ia bisa dikendalikan oleh rasa bersalah. Ruang makan yang mewah itu kini terasa seperti medan perang yang penuh dengan reruntuhan kata-kata. Lewis tidak mundur selangkah pun; ia tetap berdiri tegak, siap untuk menghancurkan apa pun yang mencoba menghalangi jalannya kembali ke universitas, kembali ke ruang bimbingan di mana ia telah merencanakan pertemuan selanjutnya dengan mahasiswi yang telah mengusik ketenangannya. ​Narasi tentang penolakan ini bukan lagi sekadar soal pekerjaan, melainkan pernyataan perang atas identitas diri. Zakiyah masih menangis tersedu-sedu, sementara Jayden perlahan menyesap kopinya yang kini sudah benar-benar dingin, menyadari bahwa putra tunggalnya baru saja memproklamirkan kemerdekaan yang akan mengubah peta kekuatan di keluarga Takizaki selamanya. Ketegangan itu belum berakhir, karena Lewis masih memiliki satu kartu terakhir yang akan ia lempar ke meja makan ini—sebuah nama yang ia tahu akan membuat ibunya semakin meradang namun sekaligus memberikan jalan keluar bagi kebuntuan ini. *** ​Ketegangan yang merayap di ruang makan Mansion Takizaki telah mencapai titik jenuhnya, menciptakan atmosfer yang begitu pekat hingga setiap tarikan napas terasa seperti menghirup debu sisa ledakan. Zakiyah masih terisak pelan, bahunya yang biasanya tegak penuh martabat kini merosot, menunjukkan kerapuhan seorang ibu yang merasa otoritasnya dicabik-cabik oleh darah dagingnya sendiri. Air mata yang membasahi pipinya bukan hanya sekadar ungkapan kesedihan, melainkan manifestasi dari rasa frustrasi yang mendalam karena gagal menjinakkan sang singa muda. Di hadapannya, Lewis tetap berdiri diam, sekeras batu karang di tengah badai, menatap ibunya dengan ekspresi yang tak terbaca, namun di balik matanya yang gelap, otaknya bekerja dengan kecepatan luar biasa, memindai setiap kemungkinan untuk keluar dari jerat emosional ini tanpa harus menyerahkan kebebasannya di universitas. ​Lewis menyadari bahwa kebuntuan ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Jika ia pergi begitu saja dalam kondisi Zakiyah yang hancur, ia hanya akan memicu serangan balasan yang lebih sistematis dari pihak keluarga. Ibunya adalah tipe wanita yang akan menggunakan segala koneksi sosial dan kekuasaan finansialnya untuk memaksanya pulang jika ia merasa terpojok. Maka, dengan gerakan yang sangat terkontrol, Lewis menarik kursi jati di dekatnya, tidak untuk duduk kembali sepenuhnya, melainkan untuk memberikan kesan bahwa ia masih bersedia melakukan negosiasi, selama syarat-syaratnya tidak menyentuh wilayah privasinya di kampus. ​"Mama ingin operasional kantor pusat berjalan tanpa gangguan, bukan?" suara Lewis memecah keheningan, nadanya kini lebih rendah, lebih tenang, namun mengandung frekuensi yang mampu membungkam isak tangis Zakiyah. Lewis menatap lurus ke arah ibunya, mencoba mengalihkan fokus dari drama emosional ke arah strategi praktis. "Dan Mama ingin dewan direksi berhenti bertanya-tanya tentang kehadiran seorang pemimpin muda dari keluarga Takizaki di gedung pusat." ​Zakiyah mengangkat wajahnya, menyeka air matanya dengan tisu sutra, namun matanya masih memancarkan kemarahan yang membara. "Tentu saja, Lewis! Itu adalah hal minimal yang harus kamu lakukan sebagai pewaris. Kita tidak bisa membiarkan kekosongan kekuasaan ini menjadi celah bagi para spekulan untuk menggoyang nilai saham kita. Papa tidak bisa selamanya berdiri di garis depan sendirian sementara kau sibuk dengan buku-buku bimbinganmu." ​Lewis mengangguk tipis, seolah-olah ia setuju dengan logika tersebut, padahal ia hanya sedang menyiapkan umpannya. "Kalau begitu, jangan paksa aku yang masuk ke sana sekarang. Jika yang Mama butuhkan adalah figur Takizaki yang kompeten, haus kekuasaan, dan siap bekerja dua puluh empat jam untuk membenahi operasional kantor pusat, maka panggillah Ranu. Ranu Raksadipura." ​Nama itu jatuh ke tengah meja makan seperti sebuah granat yang dilempar dengan dingin. Seketika, suasana di ruangan itu berubah dari panas menjadi membeku. Jayden, yang sejak tadi tampak tidak tertarik, kini mengangkat kepalanya sepenuhnya dari tablet digitalnya, menatap putranya dengan tatapan yang sangat dalam. Sementara itu, Zakiyah tampak seolah baru saja mendengar sebuah penghinaan besar. Nama Ranu bukan sekadar nama anggota keluarga bagi Zakiyah; itu adalah representasi dari ancaman yang selama ini ia coba singkirkan dari lingkar dalam kekuasaan inti Takizaki. ​
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN