Penolakan Lewis.

1011 Kata
​"Kantor pusat membutuhkan wajah baru yang segar dan tegas, Lewis," tambah Zakiyah lagi, seolah-olah tekanan itu akan membuat Lewis menyerah. "Dewan direksi mulai bertanya-tanya kapan kamu akan benar-benar mengambil kendali. Kamu tidak bisa terus bersembunyi di universitas dan membiarkan dunia luar menganggapmu tidak tertarik pada warisan keluargamu sendiri. Mama tidak mau melihatmu berada dalam bahaya lagi hanya karena pekerjaan yang menurut Mama ... tidak sepadan dengan statusmu." ​Ruangan itu kembali terjerumus dalam keheningan yang menyesakkan. Lewis tidak langsung menyahut, ia membiarkan kata-kata ibunya menggantung di udara, menjadi polusi bagi suasana sarapan yang seharusnya tenang. Di dalam benaknya, Lewis membayangkan gedung kantor pusat yang megah namun terasa seperti penjara kaca yang dingin, dan ia membandingkannya dengan ruang bimbingannya di kampus—tempat di mana ia bisa melihat Kairi Takemi dengan segala kepolosan dan kerapuhannya. Jika ia menuruti ibunya sekarang, itu artinya ia akan kehilangan hak prerogatifnya untuk mengontrol mahasiswi kecil itu secara langsung. Dan bagi seorang Lewis Jaydenson Takizaki, kehilangan kendali atas sesuatu yang telah ia klaim di dalam kepalanya adalah sebuah kekalahan yang tak terbayangkan. ​Sarapan yang mewah itu kini benar-benar terasa hambar. Lewis menatap segelas jus jeruk yang belum disentuhnya, sementara Zakiyah menanti jawabannya dengan napas yang tertahan, tidak menyadari bahwa tuntutannya pagi ini baru saja memicu perlawanan yang akan jauh lebih keras dari apa yang pernah ia bayangkan. Suasana meja makan yang kaku itu kini menjadi saksi awal dari benturan besar antara tradisi keluarga yang kolot dan obsesi pribadi seorang Lewis yang mulai liar. ​Setiap detik yang berlalu di ruangan itu seolah-olah ditarik ulur oleh ketegangan. Lewis menarik napas panjang, sebuah isyarat bahwa ia sedang mengumpulkan seluruh amarah dan logikanya untuk memberikan balasan yang telak. Zakiyah masih menatapnya dengan harapan yang besar, tanpa menyadari bahwa putra semata wayangnya sudah tidak lagi berada di bawah kendali asuhan pashmina sutranya. Pagi itu, sarapan di Mansion Takizaki bukan lagi soal makanan, melainkan soal siapa yang paling berhak mengendalikan masa depan sang pewaris takhta. *** ​Udara di dalam ruang makan Mansion Takizaki seolah-olah tersedot keluar, menyisakan ruang hampa yang menyesakkan tepat setelah Zakiyah Emberlyn melontarkan tuntutannya agar Lewis segera meninggalkan dunia akademis. Suasana yang tadinya hanya kaku kini berubah menjadi medan konfrontasi terbuka. Lewis Jaydenson Takizaki tidak segera menjawab; ia membiarkan kesunyian itu merayap, menjadi beban yang menindih bahu ibunya sendiri. Ia meletakkan serbet kainnya di atas meja dengan gerakan yang sangat pelan, hampir tidak menimbulkan suara, namun gestur itu memiliki bobot yang jauh lebih mengancam daripada teriakan kemarahan. Matanya yang gelap, yang biasanya sedingin es saat menghadapi mahasiswanya, kini memancarkan kilatan tajam yang ditujukan langsung pada sosok wanita yang telah melahirkannya. ​Lewis menegakkan punggungnya, membiarkan postur tubuhnya yang tinggi dan dominan menguasai atmosfer ruangan. Ia menatap ibunya tanpa berkedip, sebuah tatapan yang mencerminkan keteguhan hati yang sudah membatu. "Aku tidak akan melakukannya, Ma," ucap Lewis dengan suara yang sangat rendah namun bergetar karena otoritas yang mutlak. "Aku tidak akan meninggalkan universitas, dan aku tidak memiliki rencana sedikit pun untuk duduk di kantor pusat Takizaki Corp dalam waktu dekat. Keputusanku sudah bulat, dan tidak ada gunanya Mama mencoba menegosiasikan hal yang sudah menjadi prinsip hidupku." ​Zakiyah tersentak, wajahnya yang cantik kini memucat karena terkejut. Meskipun ia sudah menduga akan ada sedikit perlawanan, ia tidak menyangka Lewis akan menolaknya secara terang-terangan dan sekasar itu di depan ayahnya. "Lewis, apa kamu sadar apa yang baru saja kamu katakan?" bisik Zakiyah dengan suara yang bergetar. "Kamu menolak warisanmu sendiri? Kamu menolak tanggung jawab yang sudah dipersiapkan untukmu bahkan sebelum kamu bisa mengeja namamu sendiri? Ini bukan soal hobi, Lewis. Ini soal kelangsungan imperium kita!" ​"Aku sangat sadar, Ma," balas Lewis dingin. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah meja, memperpendek jarak antara dirinya dan Zakiyah, seolah ingin memastikan setiap katanya menembus pendengaran ibunya tanpa celah. "Mama menyebut duniaku sebagai 'bermain-main', tapi bagi aku, duniaku sekarang adalah satu-satunya tempat di mana aku merasa benar-benar hidup. Aku mencintai pekerjaanku sebagai dosen. Aku mencintai kendali yang aku miliki atas ilmu pengetahuan dan cara aku membentuk pola pikir orang lain di sana. Di universitas, aku adalah subjek yang menentukan jalanku sendiri, bukan sekadar objek yang dipajang untuk memuaskan ego korporat keluarga." ​Kata 'mencintai' yang keluar dari bibir Lewis terasa seperti duri yang menusuk pendengaran Zakiyah. Baginya, cinta terhadap sebuah profesi di luar bisnis keluarga adalah sebuah bentuk pemberontakan yang tak termaafkan. "Mencintai?" Zakiyah mengulangi kata itu dengan nada getir, hampir menyerupai tawa kering yang hambar. "Sejak kapan seorang Takizaki berbicara tentang cinta dalam memilih pekerjaan? Kita hidup untuk tugas, Lewis! Kita hidup untuk menjaga apa yang telah dibangun oleh Papamu dengan segala risikonya. Kamu bicara soal kepuasan pribadi, sementara ada ribuan karyawan di luar sana yang menggantungkan nasibnya pada kestabilan kepemimpinanmu di masa depan!" ​Lewis mendengus sinis, sebuah suara yang sangat jarang ia keluarkan namun penuh dengan ejekan yang menusuk. "Karyawan-karyawan itu dikelola oleh sistem yang sudah mapan, Ma. Takizaki Corp tidak akan runtuh hanya karena aku tidak duduk di sana sekarang. Mama hanya merasa takut kehilangan kendali atasku. Mama ingin aku berada di kantor pusat agar Mama bisa memantau setiap embusan napas dan langkahku melalui laporan-laporan dari orang-orang kepercayaan Mama. Aku bukan lagi bocah yang bisa Mama belenggu dengan rasa takut akan kegagalan." ​Melihat serangan logikanya tidak mempan, Zakiyah mulai beralih menggunakan strategi yang selama puluhan tahun selalu menjadi kekuatannya: senjata emosional. Ia menyandarkan punggungnya, bahunya meluruh seolah-olah ia tiba-tiba menanggung beban seluruh dunia. Air mata mulai menggenang di sudut matanya yang lelah, menciptakan efek dramatis yang selalu sanggup membuat Jayden menyerah, namun ia belum tahu apakah senjata ini masih ampuh untuk putra mereka yang kini telah bertransformasi menjadi pria yang sangat dingin. ​"Kamu benar-benar tega, Lewis," suara Zakiyah kini pecah, penuh dengan isak tangis yang tertahan. "Kamu bicara seolah-olah Mama adalah monster yang ingin memenjarakanmu. Tidakkah kamu melihat betapa banyak yang telah kami korbankan untukmu? Mama melepaskan segala ambisi pribadi Mama, mengubur semua keinginan Mama hanya untuk memastikan kamu tumbuh menjadi pria yang paling disegani. Mama menghabiskan malam-malam tanpa tidur hanya untuk mencemaskan keselamatanmu, mengkhawatirkan apakah kamu makan dengan benar, apakah kamu berada di lingkungan yang aman." ​
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN