Gerbang besi masif Mansion Takizaki yang menjulang tinggi seolah menjadi gerbang menuju dimensi lain saat Rolls Royce Phantom hitam itu meluncur pelan memasukinya. Lampu xenon mobil itu menyapu deretan pohon cemara yang masih meneteskan sisa-sisa air badai, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari secara ganjil di atas dinding marmer bangunan utama. Di balik kemudi, Lewis Jaydenson Takizaki merasa seolah-olah ia sedang membawa sebuah rahasia besar yang berat ke dalam rumahnya yang steril. Mesin mobil dimatikan tepat di depan drop-off utama, dan keheningan yang menyergap kabin seketika terasa mencekam. Namun, di dalam kepala Lewis, kebisingan itu belum juga mereda; pikirannya masih tertinggal di sebuah apartemen sempit berbau lembap, pada siluet seorang gadis yang berdiri gemetar di bawah cahaya lampu jalan yang temaram.
Lewis menyandarkan kepalanya sejenak pada sandaran kursi kulit yang mewah, membiarkan kegelapan kabin membungkusnya. Ia memejamkan mata, namun yang muncul bukanlah kegelapan yang tenang, melainkan proyeksi visual Kairi Takemi saat gadis itu mencoba memperbaiki rambutnya yang basah di dalam mobil tadi. Lewis bisa merasakan kembali bagaimana gairahnya terusik hebat hanya karena gerakan sederhana itu—bagaimana kemeja putih yang transparan itu mencetak lekuk tubuh mungil yang ternyata sangat memikat, memberikan gambaran yang jauh lebih berbahaya daripada ribuan angka dalam skripsi yang ia periksa. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir aroma Kairi yang seolah telah meresap ke dalam pori-pori kulitnya sendiri, aroma yang kini terasa seperti racun yang nikmat.
Dengan gerakan yang sedikit kasar dan penuh kegelisahan yang tertahan, Lewis membuka pintu mobil dan keluar. Udara malam yang dingin dan sisa-sisa aroma tanah basah menerpa wajahnya, namun panas di dalam dadanya tidak juga mendingin. Ia berjalan masuk ke dalam mansion, disambut oleh kehangatan interior bergaya klasik yang biasanya memberikan rasa tenang sebagai penguasa, namun malam ini semuanya terasa memuakkan. Lampu-lampu kristal yang berpendar amber di sepanjang aula utama seolah sedang menginterogasi langkahnya yang berat.
Baru saja Lewis menginjakkan kaki di atas lantai marmer aula utama, sosok Zakiyah muncul dari arah ruang duduk. Wanita itu tampak seperti bayangan yang gelisah, wajahnya memancarkan perpaduan antara relief yang luar biasa dan kecemasan yang meluap-luap. Zakiyah segera menghampiri putranya, langkah kakinya yang terburu-buru bergema di seluruh ruangan yang sunyi itu. Matanya menyisir setiap inci tubuh Lewis, mencari goresan atau tanda bahaya seolah-olah putranya masih anak kecil yang baru saja pulang dari medan perang.
"Lewis! Ya Tuhan, akhirnya kamu pulang, Sayang," seru Zakiyah, tangannya terulur dengan gemetar hendak menyentuh lengan Lewis, namun tangannya tertahan di udara saat melihat ekspresi putranya. "Mama sangat khawatir. Kenapa ponselmu tidak aktif sama sekali? Badainya sangat parah di luar sana, Lewis. Kenapa kamu bisa pulang selambat ini? Apa terjadi sesuatu di jalan? Apa mobilmu terjebak banjir? Kamu membuat Mama hampir gila karena cemas!"
Lewis menghentikan langkahnya, namun ia tidak menoleh sepenuhnya pada ibunya. Tubuhnya berdiri tegak, kaku layaknya patung marmer yang dingin. "Hanya urusan kampus yang mendadak, Ma. Ponselku mati karena kehabisan daya dan pengisinya tertinggal di kantor. Aku baik-baik saja, tidak perlu drama berlebihan," jawab Lewis, suaranya sedingin es yang memotong setiap usaha Zakiyah untuk mendekat secara emosional.
Zakiyah tidak puas dengan jawaban yang sangat mekanis itu. Ia adalah seorang ibu yang memiliki insting tajam terhadap darah dagingnya sendiri. Ia bisa merasakan ada ketegangan yang berbeda dari aura putranya malam ini—ada kegelapan yang lebih pekat yang menyelimuti mata Lewis, sebuah jenis kegelisahan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. "Urusan kampus apa sampai jam segini, Lewis? Tadi Mama bahkan sempat terpikir menghubungi dekanmu. Lewis, katakan pada Mama, kamu dari mana sebenarnya? Kamu tidak pernah pulang selambat ini tanpa kabar."
Lewis menghela napas pendek, sebuah tanda bahwa benteng kesabarannya sudah berada di ambang keruntuhan. Di balik matanya, bayangan Kairi yang sedang menggigil di halte, dengan air hujan yang mengalir di leher jenjangnya, kembali melintas dengan intensitas yang menyakitkan. Fokusnya terpecah antara kewajiban menghormati ibunya dan kebutuhan mendesak untuk menyendiri dengan fantasinya. "Aku sudah bilang, itu hanya urusan administrasi. Aku lelah dan ingin segera istirahat. Tolong, jangan bertanya lebih banyak lagi malam ini, Ma."
Tanpa menunggu balasan atau melihat raut wajah Zakiyah yang terluka, Lewis melangkah melewati ibunya dengan langkah lebar dan tegas menuju tangga besar yang melingkar. Zakiyah terpaku di tempatnya, berdiri sendirian di tengah kemegahan aula yang kini terasa dingin. Ia meremas ujung pashmina sutranya, menatap punggung putranya yang menghilang di kegelapan koridor lantai atas dengan perasaan curiga yang mulai tumbuh. Ia tahu Lewis adalah pria yang tertutup, namun sikap dingin yang ditunjukkan malam ini terasa memiliki alasan yang jauh lebih personal.
Begitu sampai di dalam kamarnya yang luas dan didominasi warna gelap, Lewis langsung mengunci pintu. Suara gerendel yang terkunci memberikan rasa aman yang semu. Ia menyalakan lampu dengan intensitas paling rendah, menciptakan suasana temaram yang justru membuat ingatannya semakin liar dan tak terkendali. Ia melepaskan jas wolnya yang tadi sempat dikenakan oleh Kairi, dan saat kain itu mendekati wajahnya, aroma gadis itu—perpaduan antara wangi hujan, sabun murah yang manis, dan aroma alami tubuh seorang perawan—tercium sangat kuat. Aroma itu seolah menjadi pemicu ledakan yang sejak tadi ia tahan.
Lewis berjalan menuju kamar mandi pribadinya yang luas, sebuah ruangan yang dilapisi marmer hitam pekat dengan pencahayaan yang dramatis. Ia menanggalkan pakaiannya satu per satu dengan gerakan kasar dan tidak sabar, membiarkan kemeja mahal dan celana kainnya berserakan begitu saja di lantai marmer yang dingin. Ia berdiri di depan cermin besar, menatap bayangan dirinya sendiri. Napasnya mulai memburu, dan matanya memancarkan kegelapan yang penuh dengan rasa frustrasi. Selama ini, Lewis adalah pria yang bangga atas kendali dirinya yang mutlak, namun malam ini, seorang mahasiswi yatim piatu telah meruntuhkan segalanya.
Ia melangkah masuk ke bawah pancuran shower. Awalnya, ia memutar keran ke arah paling dingin, berharap air es yang menghujam kulitnya bisa memadamkan api gairah yang membakar di balik celananya. Namun, air dingin itu justru memberikan sensasi yang kontradiktif. Saat air itu membasahi tubuhnya yang tegap, berotot, dan penuh dengan kekuatan maskulin, bayangan Kairi justru semakin nyata. Ia bisa merasakan air yang mengalir di tubuhnya seolah-olah adalah jari-jari mungil Kairi yang sedang meraba kulitnya.
Lewis memejamkan mata rapat-rapat, namun di balik kelopak matanya, ia melihat Kairi sedang mendongak di halte, dengan kemeja putih yang menempel transparan hingga memperlihatkan puncak dadanya yang menegang karena kedinginan. Imajinasi Lewis mulai meliar melampaui batas kewarasan. Ia tidak lagi melihat mahasiswinya, melainkan seorang wanita yang ditakdirkan untuk menjadi miliknya.
"Sialan kamu, Kairi Takemi ...," bisik Lewis dengan suara yang sangat parau, hampir hilang ditelan deru air yang menghantam lantai.
Tangannya yang besar kini turun, mencengkeram miliknya sendiri yang sudah mengeras maksimal sejak perjalanan di mobil tadi. Lewis mengerang rendah, sebuah suara purba yang penuh dengan d******i dan rasa haus. Ia membayangkan bukan tangannya yang sedang memuaskan dirinya sendiri, melainkan tangan Kairi yang gemetar ketakutan namun patuh. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika ia menyudutkan gadis itu di dinding marmer ini, mencium bibirnya yang pucat hingga berubah kemerahan, dan mengambil kesuciannya di bawah guyuran air.
Lewis mempercepat gerakannya dengan ritme yang penuh dengan kemarahan dan hasrat yang tak tertahankan. Punggungnya yang lebar bersandar pada dinding marmer yang dingin, memberikan kontras yang menyiksa terhadap panas yang membakar di bagian depannya. Setiap gesekan tangannya terasa seperti siksaan yang paling nikmat yang pernah ia rasakan. Dalam benaknya, ia melihat Kairi menangis kecil, memanggil namanya dengan nada memohon agar ia tidak berhenti. Fantasi itu begitu kuat hingga Lewis bisa merasakan aroma tubuh Kairi seolah benar-benar ada di ruangan itu.
Napas Lewis menjadi semakin berat, pendek, dan tidak beraturan. Otot-otot di seluruh tubuhnya menegang keras, dari betis hingga rahangnya yang terkatup rapat. Ia membayangkan puncak kepuasan ini adalah persembahan untuk Kairi, gadis yang telah mencuri kewarasannya dalam satu malam. Kepalanya mendongak ke arah pancuran air, membiarkan aliran air yang dingin menghujam wajah dan dadanya, sementara di bawah sana, ia merasakan sensasi puncak yang mulai meledak dari pusat tubuhnya.
"Ah ... Kairi ... s**t ...!"
Erangan berat dan serak itu lolos dari tenggorokan Lewis, menggema di dalam kamar mandi yang kedap suara saat tubuhnya tersentak hebat berulang kali. Ia mencapai klimaksnya dengan intensitas yang belum pernah ia alami sebelumnya, menyemburkan benih gairahnya ke lantai marmer yang basah sebagai tanda penaklukan mental terhadap gadis yang bahkan belum ia sentuh secara fisik. Lewis terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat, dan tangannya masih mencengkeram dinding marmer dengan kuku yang seolah ingin menembus batu tersebut untuk menahan tubuhnya yang mendadak lemas.
Lama Lewis berdiri di bawah kucuran air, membiarkan tubuhnya mendingin seiring dengan cairan sisa pelepasannya yang hanyut ditelan lubang pembuangan. Wajahnya perlahan kembali ke topeng dinginnya yang biasa, namun matanya tetap memancarkan kegelapan yang lebih pekat. Ia telah melewati batas yang tidak bisa ditarik kembali. Pengakuan secara fisik ini adalah segel gaib bahwa Kairi bukan lagi sekadar mahasiswi bimbingannya. Kairi adalah candu yang baru saja ia cicipi, dan Lewis Jaydenson Takizaki tidak akan pernah berhenti sampai ia bisa memiliki setiap inci tubuh dan jiwa gadis itu secara nyata dalam sangkar emasnya.
Ia akhirnya mematikan shower, menyambar handuk hitam tebal, dan melilitkannya di pinggang. Di luar sana, badai mungkin sudah mereda, tapi di dalam diri Lewis, badai obsesi baru saja dimulai. Ia menatap ke jendela kamar yang memperlihatkan kegelapan malam, menyadari bahwa mulai besok, hidup Kairi tidak akan pernah sama lagi karena ia telah memutuskan untuk menjadikannya pusat dari seluruh dunianya yang gelap.