Perdebatan Suami Istri.

1215 Kata
​Keheningan malam di dalam kamar utama Mansion Takizaki terasa begitu berat, seolah-olah dinding-dinding yang dilapisi wallpaper beludru impor itu menyimpan ribuan rahasia yang tidak boleh terucap. Cahaya lampu tidur yang temaram memberikan semburat keemasan pada furnitur kayu jati berukir, namun kemewahan itu tidak mampu meredakan ketegangan yang merayap di antara dua sosok yang telah berbagi hidup selama puluhan tahun. Jayden Morgan Takizaki berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang, punggungnya yang lebar tampak seperti karang yang kokoh di tengah badai, sementara Zakiyah duduk di tepi tempat tidur king size, jari-jarinya yang ramping terus memilin ujung pashmina sutranya dengan gelisah. ​Suasana tenang yang tadi sempat terbangun saat Jayden menenangkan Zakiyah di tangga kini telah menguap, berganti dengan percikan konflik yang mulai menyulut udara di sekitar mereka. Zakiyah tidak bisa lagi menahan beban yang menghimpit dadanya sejak melihat kepulangan Lewis yang begitu dingin dan asing. Ia merasa ada sesuatu yang lepas dari kendalinya, dan sebagai seorang ibu yang memuja putra tunggalnya, ketidakpastian adalah musuh terbesarnya. ​"Mas, kita tidak bisa membiarkan Lewis terus seperti ini," Zakiyah memulai pembicaraan, suaranya memecah kesunyian dengan nada yang penuh desakan. "Kamu lihat sendiri bagaimana dia tadi. Dia semakin tertutup, semakin sulit dijangkau. Dia menghabiskan seluruh waktunya di kampus dan kantor, mengabaikan kehidupan sosialnya. Aku takut dia kehilangan arah." ​Jayden tidak langsung menoleh. Ia menatap tetesan air yang meluncur di kaca jendela, memikirkan bayangan Lewis yang ia lihat sekilas tadi. Ia bisa mencium aroma perubahan pada putranya, sebuah aroma yang hanya bisa dipahami oleh sesama pemangsa. "Dia tidak kehilangan arah, Sayang. Dia hanya sedang menentukan jalannya sendiri. Kamu terlalu sering menganggap ketenangannya sebagai sebuah masalah, padahal itu adalah kekuatannya." ​"Kekuatan? Itu adalah isolasi, Mas!" seru Zakiyah, ia berdiri dan melangkah mendekati suaminya. "Dia butuh pendamping. Seseorang yang bisa melunakkan hatinya, seseorang yang bisa memastikan bahwa dia tidak akan berakhir menjadi pria yang dingin dan kesepian. Aku sudah memikirkan ini matang-matang. Sudah saatnya kita meresmikan hubungan Lewis dengan Aluna. Pertunangan itu harus segera dilaksanakan." ​Mendengar nama Aluna, rahang Jayden sedikit mengeras. Ia memutar tubuhnya, menatap Zakiyah dengan mata tajam yang seolah mampu menembus setiap lapisan kecemasan istrinya. "Aluna? Kamu ingin mengikat Lewis dengan gadis itu hanya karena rasa bersalahmu pada masa lalu? Berapa kali harus kukatakan, Kiya, rasa bersalahmu pada Siera bukan berarti kamu harus mengorbankan masa depan putra kita." ​Wajah Zakiyah memucat mendengar nama Siera disebut. Siera adalah sahabat lamanya, wanita yang telah memberikan pengorbanan yang tak ternilai di masa muda mereka yang kelam. Aluna adalah putri tunggal Siera, dan sejak kepergian wanita itu, Zakiyah telah berjanji di dalam hatinya untuk memberikan kehidupan terbaik bagi Aluna. Baginya, menikahkan Aluna dengan Lewis adalah cara terbaik untuk melunasi janji itu, sekaligus memastikan Lewis mendapatkan istri yang patuh dan berkelas. ​"Ini bukan sekadar soal Siera, Mas!" Zakiyah membela diri dengan suara yang bergetar. "Aluna adalah gadis yang sempurna untuk Lewis. Dia cantik, berpendidikan, dan dia sangat mencintai Lewis sejak mereka kecil. Dia tahu posisi keluarga kita, dia tidak akan membawa masalah. Dengan Aluna di sampingnya, posisi Lewis di perusahaan akan semakin stabil. Aluna adalah jangkar yang dia butuhkan." ​Jayden mendengus sinis, sebuah tawa kering yang meremehkan. Ia berjalan mendekati Zakiyah, mengintimidasi ruang gerak istrinya dengan aura Alpha yang begitu dominan. "Jangkar? Kamu salah mengartikan putra kita, Sayang. Lewis bukan kapal yang butuh ditahan di dermaga yang tenang. Dia adalah badai itu sendiri. Dia tidak butuh wanita yang hanya bisa mengekor dan setuju pada setiap perkataannya. Dia butuh tantangan, dia butuh api yang bisa mengimbangi dinginnya." ​"Kamu hanya ingin dia menjadi sepertimu, Mas! Liar dan tak terkendali!" balas Zakiyah dengan emosi yang memuncak. "Kamu lupa berapa banyak air mata yang kutumpahkan karena sifatmu itu di masa lalu? Aku tidak ingin Lewis menyakiti wanita lain seperti itu. Aku ingin dia memiliki kehidupan yang stabil dan terencana." ​"Stabilitas adalah kematian bagi pria seperti Lewis, Kiya," suara Jayden kini merendah, namun setiap katanya memiliki bobot yang sangat berat. "Kamu ingin menjodohkannya dengan Aluna karena kamu tahu kamu bisa mengendalikan Aluna. Kamu ingin tetap menjadi ratu di mansion ini dengan menantu yang bisa kamu dikte. Tapi kamu lupa satu hal; Lewis adalah darah dagingku. Semakin kamu menekannya, semakin keras dia akan berontak. Dan jika dia berontak, dia akan menghancurkan apa pun yang mencoba menghalanginya, termasuk keinginanmu." ​Zakiyah terdiam, napasnya memburu. Ia tahu apa yang dikatakan Jayden ada benarnya, namun rasa takut akan kehilangan Lewis dan keinginan untuk melunasi janjinya pada Siera menutup logikanya. "Tapi Aluna sudah menunggu begitu lama. Dia sudah memberikan segalanya untuk menjadi pantas bagi Lewis. Apakah kamu tidak punya sedikit pun belas kasihan pada gadis itu? Lewis berhak mendapatkan kebahagiaan, dan aku yakin kebahagiaan itu ada pada Aluna." ​"Kebahagiaan Lewis bukan milikmu untuk diputuskan," Jayden melangkah mundur, mengambil jubah tidurnya yang tersampir di kursi dan memakainya kembali dengan gerakan yang tenang. "Aku tidak akan membiarkanmu memaksa Lewis melakukan pertunangan konyol itu. Jika Lewis menginginkan Aluna, dia akan datang padaku dan mengatakannya sendiri. Tapi sampai detik ini, yang kulihat hanyalah seorang pria yang bosan setiap kali nama gadis itu disebut." ​Jayden berjalan menuju tempat tidur, namun ia berhenti sejenak dan menatap Zakiyah yang masih berdiri mematung di tengah ruangan. "Dunia sedang berubah, Kiya. Lewis bukan lagi pangeran kecilmu yang bisa kau atur jadwal makannya. Dia punya seleranya sendiri. Dan aku punya firasat, dia baru saja menemukan sesuatu—atau seseorang—yang jauh lebih menarik daripada Aluna yang membosankan itu." ​"Apa maksudmu?" tanya Zakiyah dengan nada curiga. "Apa kamu tahu sesuatu yang tidak aku ketahui? Apa Lewis sedang dekat dengan wanita lain?" ​Jayden hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membuat Zakiyah semakin gelisah. "Aku hanya mengenal putraku. Pria yang tadi masuk ke rumah ini bukan pria yang sedang memikirkan pekerjaan. Dia adalah pria yang sedang terobsesi. Dan percayalah padaku, saat seorang pria Takizaki terobsesi, tidak ada satu pun pertunangan atau janji masa lalu yang bisa menghentikannya." ​Perdebatan itu berakhir dengan keheningan yang lebih tajam dari sebelumnya. Jayden merebahkan tubuhnya di tempat tidur, memejamkan mata seolah pembicaraan itu sudah selesai secara mutlak. Sementara itu, Zakiyah tetap berdiri di kegelapan, matanya menatap pintu kamar mereka yang tertutup rapat. Di dalam hatinya, sebuah rencana mulai tersusun. Jika Jayden tidak mau membantunya, maka ia sendiri yang akan memastikan Lewis dan Aluna bersatu. Ia tidak akan membiarkan "gangguan" apa pun masuk ke dalam kehidupan sempurna yang telah ia rancang untuk putranya. ​Zakiya tidak menyadari bahwa di balik pintu itu, di belahan lain mansion, Lewis sedang berdiri di bawah shower air dingin, mencoba membasuh bayangan gadis yang akan menjadi alasan kehancuran segala rencana indah ibunya. Di kamar utama itu, benih konflik antara orang tua dan anak, serta antara suami dan istri, telah resmi tertanam, menunggu waktu untuk tumbuh menjadi duri yang akan melukai mereka semua. ​Malam semakin larut, namun di kamar itu, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bisa memejamkan mata dengan tenang. Badai di luar mungkin sudah berhenti, namun di dalam Mansion Takizaki, badai yang lebih besar sedang berkumpul di ufuk, siap untuk menyapu bersih segala bentuk kepatuhan dan aturan yang selama ini dijaga dengan ketat. Jayden menghela napas panjang dalam kegelapan, menyadari bahwa mulai besok, ia mungkin harus berdiri di tengah-tengah antara istri yang ia cintai dan putra yang ia banggakan dalam sebuah peperangan yang tidak bisa dihindari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN