Posesif yang Tiba-Tiba.

1058 Kata
Hujan di luar sana seolah tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda, justru semakin menggila dengan kilatan petir yang sesekali membelah langit Jakarta, menerangi kabin mobil itu secara sekilas dengan cahaya putih yang dingin. Di dalam mobil, suasana terasa sangat kontras. Panas yang menjalar dari mesin dan sistem pemanas mobil mulai menguapkan sisa-sisa air di kemeja Kairi, menciptakan atmosfer yang lembap dan semakin menyesakkan. Kairi Takemi masih tetap pada posisinya, meringkuk di bawah jas wol besar milik Lewis, mencoba mengecilkan eksistensinya agar tidak terus menjadi pusat perhatian pria di sampingnya. Namun, usaha itu sia-sia. Setiap helaan napas Kairi, setiap pergeseran kecil kakinya di atas karpet beludru mobil, tertangkap jelas oleh indra Lewis yang sedang dalam keadaan siaga penuh. Lewis melepaskan satu tangannya dari kemudi, membiarkannya menggantung dengan santai namun tampak sangat kuat di atas konsol tengah. Matanya masih menatap lurus ke depan, menembus tirai air yang dihantam oleh wiper mobil yang bergerak ritmis. Namun, keheningan yang ia ciptakan terasa seperti tarikan busur panah yang siap meluncurkan serangan. "Jadi," suara Lewis memecah keheningan, suaranya kini lebih tajam, kehilangan nada datar yang ia gunakan saat membahas skripsi tadi. "Kenapa kamu berakhir di halte itu sendirian?" Kairi menoleh sedikit, bingung dengan arah pembicaraan ini. "Saya ... saya baru selesai dari perpustakaan, Pak. Tadi busnya tidak kunjung datang karena banjir." Lewis mendengus, sebuah suara yang terdengar penuh cemoohan. "Aku tidak sedang bertanya tentang jadwal transportasi publik yang kacau itu, Kairi. Aku bertanya, di mana kekasihmu? Atau pria mana pun yang biasanya mengekor di belakangmu di kampus?" Kairi tersentak. Pertanyaan itu terdengar sangat personal, sangat tidak pantas keluar dari mulut seorang dosen kepada mahasiswinya. Terlebih lagi, nada yang digunakan Lewis sangat sinis, seolah ia sedang menuduh Kairi telah melakukan kesalahan besar karena tidak memiliki seseorang untuk menjemputnya. Kairi merasa terintimidasi oleh intensitas dalam nada bicara Lewis yang terselip rasa ingin tahu yang sangat besar, sebuah keingintahuan yang terasa gelap dan menekan. "Saya tidak punya kekasih, Pak," jawab Kairi pelan, hampir tidak terdengar di antara dengung AC. "Tidak punya?" Lewis mengulangi kalimat itu dengan penekanan yang aneh. Ia melirik Kairi sesaat, matanya menyisir wajah Kairi yang masih pucat dengan rambut yang menempel di dahi. "Lalu ke mana perginya mahasiswa junior yang minggu lalu terus-menerus mencoba mengajakmu bicara di koridor gedung ekonomi? Atau pria dari jurusan hukum yang sering kulihat menunggumu di depan perpustakaan? Apa mereka semua pengecut yang takut pada sedikit air hujan?" Kairi merasa jantungnya berdegup kencang. Ia tidak menyangka Lewis memperhatikan interaksi sekecil itu di kampus. Ia bahkan tidak menganggap pria-pria itu penting, tapi entah kenapa Lewis mengingat mereka dengan detail yang sangat mengganggu. "Mereka bukan siapa-siapa, Pak. Hanya teman satu organisasi. Dan saya memang lebih suka pulang sendiri." "Pulang sendiri dan membiarkan dirimu dalam bahaya?" potong Lewis dengan nada yang mendadak meninggi. "Kamu pikir Jakarta ramah pada gadis yang berdiri sendirian di halte gelap dengan pakaian yang hampir transparan karena hujan? Kamu pikir apa yang akan terjadi jika pria yang berhenti di depanmu tadi bukan aku, melainkan orang lain dengan niat yang jauh lebih buruk?" Kairi menunduk dalam, tangannya yang memegang jas Lewis gemetar. Posesif yang tiba-tiba muncul dari Lewis membuatnya merasa sesak. Lewis bicara seolah-olah ia memiliki hak untuk mengatur hidup Kairi, seolah-olah keselamatan Kairi adalah tanggung jawab pribadinya yang sedang diganggu oleh kecerobohan gadis itu sendiri. Kairi merasa udara di dalam mobil semakin panas, dan ia merasa perlu melakukan sesuatu untuk mengurangi ketegangannya. Tanpa sadar, Kairi mengangkat kedua tangannya ke atas kepala. Ia mencoba memperbaiki rambut hitamnya yang basah dan berantakan, menyisirnya ke belakang dengan jari-jari mungilnya agar tidak menutupi matanya. Gerakan itu sederhana, namun karena ruang yang terbatas dan jas yang tersampir di bahunya, gerakan itu membuat tubuhnya meliuk, menarik kemeja putihnya semakin ketat di bagian d**a. Lengan kemejanya yang basah terangkat, memperlihatkan lekukan pinggangnya yang ramping dan garis tubuhnya yang mempesona. Lewis, yang secara insting melirik ke arah Kairi saat gadis itu bergerak, seketika membeku. Matanya menangkap pemandangan itu secara penuh—siluet tubuh Kairi yang mungil namun memiliki lekuk yang sangat menggoda secara alami. Cahaya remang dari dasbor jatuh tepat pada leher jenjang Kairi yang masih basah, memperlihatkan denyut nadi di sana yang bergerak cepat. Gairah yang sejak tadi coba Lewis tekan di bawah lapisan logikanya seketika meledak, menghantam pusat sarafnya dengan kekuatan yang tidak terduga. Suara kulit kemudi yang tertekan terdengar jelas di kabin yang sunyi. Lewis mencengkeram kemudi Rolls Royce itu dengan sangat kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol keluar dan buku-bukunya memutih. Matanya menggelap, rahangnya mengeras hingga otot-otot di sekitar wajahnya tampak menegang. Ia merasa panas yang membakar menjalar dari perut bawahnya hingga ke tenggorokan. Ia harus memaksa dirinya untuk kembali menatap jalanan, karena jika ia terus menatap Kairi sedetik lagi, ia takut ia tidak akan bisa menahan diri untuk tidak menghentikan mobil ini di pinggir jalan dan melakukan sesuatu yang akan ia sesali—atau mungkin tidak akan ia sesali. Kairi yang merasakan perubahan drastis pada aura Lewis segera menurunkan tangannya. Ia melihat Lewis yang tampak sangat tegang, napas pria itu terdengar lebih berat dan pendek. Kairi tidak mengerti apa yang baru saja terjadi, namun ia tahu ia harus memecah suasana yang semakin berbahaya ini. Lewis berdehem, mencoba mengembalikan suaranya yang mendadak parau. Ia melirik Kairi lagi, kali ini dengan ekspresi yang kembali dingin namun dengan sisa-sisa api di matanya yang belum padam sepenuhnya. "Dan satu lagi, Kairi Takemi," ucap Lewis, kali ini dengan nada yang sedikit berbeda, ada sedikit sarkasme yang terasa lebih manusiawi namun tetap tajam. "Sebaiknya kamu segera beritahu aku di mana tepatnya alamat kamu tinggal. Kamu pikir aku ini driver ojek online yang punya aplikasi pelacak otomatis di ponselku? Aku tidak punya waktu semalaman untuk sekadar menebak-nebak di lubang mana kamu tinggal." Kairi tertegun sejenak mendengarnya. Ia tidak menyangka Lewis bisa melontarkan kalimat yang sedikit "lucu" di tengah ketegangan ini, meskipun disampaikan dengan nada menyebalkan. Kairi hampir saja ingin tersenyum jika saja ia tidak sedang merasa takut. "Ma-maaf, Pak. Di jalan Melati, apartemen dekat stasiun," jawab Kairi cepat. Lewis tidak menyahut, ia hanya menambah kecepatan mobilnya, membelah hujan dengan keanggunan yang mematikan, membawa Kairi menuju tujuannya sementara di dalam kepalanya, Lewis sedang berperang dengan obsesi baru yang mulai mengakar kuat: memastikan bahwa mulai malam ini, tidak akan ada pria lain yang boleh melihat apa yang baru saja ia lihat. Karena Kairi, dengan segala kepolosan dan gairah yang tidak disadarinya, telah secara resmi menjadi wilayah yang ingin ia taklukkan sepenuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN