Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai sutra yang mahal, membawa garis-garis emas yang membelah keheningan kamar utama yang masih menyisakan aroma gairah semalam. Di atas tempat tidur yang berantakan, Kairi perlahan membuka matanya. Rasa sakit yang tumpul di bagian bawah tubuhnya segera menyentak kesadarannya, membawa kembali memori tentang setiap sentuhan, setiap erangan, dan bagaimana Lewis telah meruntuhkan seluruh pertahanannya hingga ke titik nol. Ia merasakan permukaan seprai yang dingin di sisi tempat tidurnya, dan saat ia menoleh, ia mendapati tempat di sampingnya sudah kosong. Jantungnya berdegup kencang—ada rasa kehilangan yang aneh sekaligus kelegaan yang sesak. Kairi mencoba bangkit, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos dan penuh dengan tan

