Bayang-Bayang Kairi.

1111 Kata
​Deru mesin Rolls Royce Phantom yang halus namun bertenaga itu seharusnya memberikan ketenangan bagi siapa pun yang duduk di balik kemudinya, namun bagi Lewis Jaydenson Takizaki, suara itu terdengar seperti detak jantung yang berpacu melawan waktu. Ia memacu kendaraannya keluar dari gerbang Mansion Takizaki dengan kecepatan yang sedikit di atas rata-rata, meninggalkan aroma konflik di meja makan dan isak tangis ibunya yang masih terngiang di telinga. Namun, begitu ban mobilnya menyentuh aspal jalanan Jakarta yang masih basah dan mengilap oleh sisa-sisa hujan semalam, amarahnya terhadap Zakiyah perlahan-lahan tergeser oleh sesuatu yang jauh lebih mendesak dan menghantui. ​Lewis mencengkeram kemudi berlapis kulit itu dengan kuat, hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap lurus ke depan, menyisir kepadatan lalu lintas pagi, namun fokusnya benar-benar hancur. Pikirannya tidak sedang berada di kantor pusat, tidak sedang memikirkan strategi untuk menghadapi dewan direksi, bahkan tidak sedang memikirkan Ranu yang baru saja ia jadikan bidak catur. Pikirannya terjebak di dalam kabin mobil ini, namun dalam dimensi waktu beberapa jam yang lalu. ​Ia melirik sekilas ke arah kursi penumpang di sampingnya. Kursi itu kosong, namun di mata Lewis, bayangan Kairi Takemi masih tertinggal di sana. Ia seolah bisa melihat kembali sosok mungil itu yang meringkuk dengan tubuh gemetar hebat, terbungkus jas wol hitam miliknya yang terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang mungil. Lewis masih bisa mengingat dengan detail yang menyiksa bagaimana air hujan menetes dari ujung rambut Kairi yang lepek, mengalir melewati leher jenjangnya yang pucat, dan menghilang di balik kerah kemeja putihnya yang transparan. Bayangan itu bukan sekadar ingatan; itu adalah sebuah hantu visual yang menolak untuk pergi. ​Setiap kali ia menginjak rem karena kemacetan, Lewis merasa dadanya sesak oleh kegelisahan yang asing. Ia teringat betapa dinginnya jemari Kairi saat gadis itu tanpa sengaja menyentuh tangannya ketika hendak mengembalikan jasnya—sentuhan singkat yang terasa seperti sengatan listrik statis yang membekukan logikanya. Ia teringat bibir Kairi yang membiru, bergetar saat mencoba mengucapkan terima kasih, dan mata bulatnya yang dipenuhi rasa takut sekaligus rasa syukur yang tidak pada tempatnya. ​"Sialan," bisik Lewis parau, suaranya memenuhi kabin yang kedap suara. ​Ia mencoba menyalakan radio untuk mengalihkan pikirannya, namun berita tentang fluktuasi ekonomi global hanya terdengar seperti kebisingan yang mengganggu. Ia mematikannya kembali, memilih untuk kembali tenggelam dalam kesunyian yang justru semakin memperjelas bayangan Kairi. Ia bertanya-tanya, apakah gadis itu menuruti perintahnya untuk segera mandi air panas? Apakah dia minum obat pencegah flu? Mengingat apartemen Kairi yang sempit, lembap, dan tampak tidak memiliki pemanas yang memadai, Lewis merasa sebuah amarah baru muncul—bukan pada Kairi, melainkan pada kondisi yang membuat gadis itu terlihat begitu rapuh. ​Ada sesuatu yang sangat mengusik ego Lewis saat menyadari bahwa ia tidak tahu apa yang terjadi pada Kairi setelah ia menurunkannya semalam. Ia terbiasa mengendalikan segala aspek dalam hidupnya, namun Kairi adalah variabel yang tidak bisa ia pantau melalui layar monitor kantornya. Ketidakpastian ini membuatnya tidak fokus. Ia melewatkan satu tikungan yang seharusnya menjadi jalur tercepat menuju kampus, memaksanya untuk berputar lebih jauh di tengah kemacetan yang kian menggila. ​Bayangan-bayangan itu mulai berkembang menjadi skenario-skenario yang lebih liar di kepala Lewis. Ia membayangkan Kairi jatuh pingsan di lantai kamarnya karena demam tinggi, sendirian tanpa ada yang menolong. Ia membayangkan gadis itu terbangun dengan napas yang berat dan tubuh yang menggigil, namun tetap memaksakan diri untuk bangun hanya karena takut padanya. Pemikiran itu membuat Lewis merasa sangat berkuasa, namun di saat yang sama, ada rasa tidak sabar yang menyiksa untuk segera membuktikan bahwa Kairi baik-baik saja—atau lebih tepatnya, ia ingin memastikan bahwa Kairi masih berada dalam jangkauan "kekuasaannya". ​Sepanjang perjalanan, Lewis terus-menerus melirik jam digital di dasbor. Waktu seolah berjalan dengan ritme yang sengaja mengejeknya. Ia membayangkan Kairi di dalam kelas, duduk di bangku paling depan dengan wajah pucatnya yang khas, berusaha fokus pada materi kuliah meskipun tubuhnya mungkin sedang berperang melawan flu. Atau mungkin, Kairi sedang berada di ruang bimbingan, menunggunya dengan tumpukan kertas skripsi yang penuh dengan coretan tinta merah darinya. Lewis menyadari bahwa ia merindukan ekspresi ketakutan yang muncul di wajah Kairi setiap kali ia memberikan kritik tajam—sebuah bentuk perhatian yang menyimpang, namun itulah satu-satunya cara Lewis tahu bagaimana cara terhubung dengan seseorang tanpa harus terlihat lemah. ​Fokusnya yang terbelah membuatnya hampir saja menabrak sebuah kendaraan di depannya saat ia terlalu lama melamunkan bagaimana lembutnya kulit Kairi jika ia menyentuhnya tanpa lapisan kain. Lewis mengumpat keras, membanting setir dengan kasar. Ia adalah pria yang rasional, pria yang dingin, namun pagi ini, bayang-bayang seorang mahasiswi yatim piatu telah meruntuhkan seluruh pertahanan mental yang ia bangun selama bertahun-tahun. Obsesi ini bukan lagi sekadar rasa penasaran; ini adalah sebuah rasa lapar yang menuntut untuk segera dipuaskan. ​Ia tidak sabar untuk melihat mata Kairi yang bulat dan penuh kejujuran itu. Ia tidak sabar untuk mencium aroma hujan yang mungkin masih tertinggal di rambut gadis itu. Dan yang paling penting, ia tidak sabar untuk melihat bagaimana Kairi akan gemetar lagi saat menyadari bahwa profesornya yang dingin ini adalah satu-satunya orang yang tahu betapa rapuhnya dia di bawah badai semalam. Bagi Lewis, perjalanan menuju kampus pagi ini bukan lagi soal menjalankan profesi, melainkan sebuah perburuan untuk menemukan kembali miliknya yang telah ia tandai dengan jas wolnya yang mahal. ​Setiap jengkal aspal yang dilewatinya terasa seperti jarak yang tak berujung. Lewis menekan klaksonnya dengan tidak sabar saat sebuah bus kota menghalangi jalannya. Pikirannya sudah melompat jauh ke depan, ke selasar universitas, ke ruang bimbingannya yang ber-AC dingin, di mana ia membayangkan Kairi akan masuk dengan langkah yang ragu-ragu dan wajah yang mungkin lebih pucat dari biasanya. Ia merasa perlu untuk berada di sana secepat mungkin, seolah-olah jika ia terlambat satu menit saja, Kairi akan menghilang dari pandangannya selamanya. ​Ketika gerbang universitas mulai terlihat di kejauhan, jantung Lewis berdenyut lebih kencang—sebuah sensasi yang seharusnya ia benci, namun pagi ini, ia membiarkannya menguasai dirinya. Ia memarkir mobilnya di area khusus dosen dengan gerakan yang terburu-buru, bahkan tidak memedulikan kerapian posisinya. Ia keluar dari mobil, menyambar tas kulitnya, dan melangkah lebar menuju gedung fakultas. Di balik kacamatanya yang gelap, matanya menyapu setiap sudut selasar, mencari sosok yang sejak tadi menghantui perjalanannya. Ia tidak peduli pada sapaan hormat dari mahasiswa lain atau rekan dosennya; dunianya saat ini menyempit hanya pada satu koordinat: di mana Kairi Takemi berada. ​Obsesi itu kini telah menemukan bentuknya yang paling murni. Lewis tidak lagi membayangkan perdebatan dengan ibunya atau ambisi Ranu. Baginya, kenyataan hanya ada di ruang kelas dan ruang bimbingan. Ia ingin melihat Kairi, ia ingin memastikan gadis itu masih bernapas dalam orbitnya, dan ia tidak akan tenang sampai ia melihat mahasiswi kecilnya itu menundukkan kepala di hadapannya, mengakui secara diam-diam bahwa dia adalah milik sang Profesor Takizaki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN