“Assalamu’alaikum,” ucap Bintang. “Wa’alaikumussalam,” jawab Helia. “Masuk aja, A.” “Maaf, ya sayang,” ujar Bintang sambil membuka sepatunya. “Ngga apa-apa, A. Aku punya pepper spray kok.” Bintang otomatis tergelak mendengar tanggapan kekasihnya itu. Malam sudah menguasai kanvas, namun gelap seolah lupa untuk hadir. Jakarta bermandikan cahaya—lampu jalan, papan reklame, jendela-jendela apartemen lain yang menyala seperti kotak-kotak kecil berisi kehidupan orang lain. Dari balik kaca unit Helia, kota tampak sibuk, tak peduli ada satu nama yang tengah dipotong-potong di layar massa. Pintu unit tertutup rapat. Helia menaruh tasnya di atas dresser, lalu berjalan ke dapur tanpa bicara banyak. Ia mengisi dua gelas dengan air putih, duduk di salah satu kursi makan, meneguk perlahan. Bin

