Mereka belum jauh dari kafe ketika Bintang mendadak berhenti. “A…?” tanya Helia. Bintang menatap etalase kaca di sebelah kanan. Jaket-jaket tergantung rapi, sepatu hiking berjajar dalam warna bumi, deretan botol minum stainless tersusun seperti pameran, dan rak penuh peralatan yang tampak seperti solusi untuk semua masalah hidup di alam terbuka. “Abdi mau masuk sini dulu,” ujarnya pada semua, sebatas pemberitahuan, bukan meminta izin. “Sebentar.” Namun, tentu saja ia tak mungkin masuk sendiri. Segala hal yang berada di balik etalase itu sayang untuk dilewatkan. “Oh no,” gumam Sam. “Kepake juga duit saweran.” Bumi tergelak renyah. “Ngga bakalan sebentar ini sih. Urang juga mau lihat-lihat da.” “Lihat-lihat?” tanya Yuna. “Muhun, Neng. Habis itu bawa ke kasir,” sahut Bumi kemudian men

