“Aa?” Helia berbisik di telinga Bintang. “Kenapa?” balas Bintang, ikut berbisik. Bibir Helia mendekat ke telinga sang suami lagi. “Sudah jam setengah dua.” “Kamu capek? Ngantuk?” Helia menggeleng. “Bukan, A. Tadi kan kita keluar hotel setengah sepuluh, berarti ini sudah tiga jam. Terus kita masih di...” Ia menyapukan pandangannya ke sekitar. “Hirschenplatz.” Bintang melengkapi kalimat istrinya. “Nah, itu!” Helia menatap suaminya lagi. “Memang normal ya, A, muter-muter di sisi utara Reuss selama ini?” “Normal banget,” jawab Bintang. Ia tak lagi berbisik. “Apalagi jalannya rame-rame. Ada anak-anak, dua bumil, nini-nini, aki-aki. Yang mudanya bolak-balik motret, jaga anak, jaga bumil. Belum lagi berhenti buat ngemil, keluar-masuk toko, sama foto-foto.” Helia terkekeh. “Aku takutnya g

