Mereka sempat tertidur. Sekitar pukul dua puluh dua saat Bintang terbangun lebih dulu. Malam datang tanpa pengumuman. Tidak ada suara pesta dari lorong hotel, tidak ada pintu kamar yang berkali-kali dibuka-tutup, tidak ada riuh anak muda berlarian mengejar jam dua belas. Paris mungkin sedang bersiap merayakan, namun di kamar itu, semuanya seolah berjalan pelan—seperti hari yang tidak ingin ditutup dengan terburu-buru. Bintang menyalakan lampu meja. Cahaya temaram jatuh ke seprai putih, ke lantai kayu, ke mantel-mantel yang digantung rapi. Helia mengernyit, kelopak matanya bergetar helus sebelum terbuka. Senyum Bintang menyambutnya. “Aa sudah bangun. Jam berapa, A?” “Jam sepuluhan.” Helia duduk bersila di ranjang, sweaternya longgar, rambutnya tergerai rapi. Matanya terlihat masih m

