DINNER & SEINE

1704 Kata

“Ngga jalan-jalan, Pi?” tanya Bintang saat mendapati Ian duduk santai di restoran hotel. Ian menoleh, lalu tersenyum simpul. Di hadapannya tak ada makanan berat—hanya secangkir kopi hitam, segelas air mineral, serta satu piring kecil berisi sweet and savory platter yang belum banyak tersentuh. Beberapa menit lagi menjelang senja. Meja yang Ian tempati itu bersisian dengan jendela, kacanya berembun tipis karena perbedaan suhu di luar dan di dalam. Pemandangan yang tersaji juga luar biasa indah. Tepi sungai berombak lembut di bawah cahaya sore. Seine memantulkan siluet bangunan di seberangnya dan lampu-lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. “Sudah tadi,” jawab Ian. “Ke Louvre sama Amanda, Arani, dan Fabian. Aa dan Teteh kan ngga ikut sarapan, Papi pikir punya rencana sendiri.” “

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN