RAPUH

1803 Kata

“Vitaminnya diminum dulu, Izora.” Helia mengangguk. Bintang duduk di sampingnya, menyiapkan beberapa tablet yang biasa istrinya konsumsi di pagi hari. Helia menelan obat itu, lalu menyesap air dua kali. Namun, mulutnya tetap saja terasa kering. “Pahit, Izora?” tanya Bintang. “Ngga sih, A. Cuma ngga nyaman aja sama bau obat-obatan begini,” jawab Helia. “Mual ngga?” Helia mengangguk. “Ngga bergejolak sih.” “Pusing?” “As always,” kekeh Helia. Bintang diam saja, sama sekali tak menyunggingkan senyuman. “Aa serius banget sih,” ujar Helia lagi. “Ngga kok, Izora,” elak Bintang. ‘Aku cuma ngga tau bagian mananya yang lucu dari istriku pusing dan aku ngga bisa melakukan apa pun untuk meringankan rasa sakitnya.’ “Aa?” tegur Helia. “Kok malah bengong?” “Henteu, Neng," tanggap Bintang.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN