“Neng lapar ngga?” tanya Bintang. Ia duduk di tepi ranjang dengan kelopak mata tertutup setengah. “Ngga, A,” lirih Helia. “Duh, perlu ke rumah sakit ngga ya?” Baru satu jam tanggal berganti. Memasuki hari ketiga mereka kembali ke rumah yang berarti sudah dua malam Bintang dan Helia tak benar-benar tidur. ASI Helia belum bisa diperah. Mungkin, selain kebutuhan Nadia belum banyak, tubuhnya yang stres membuat produksi su5u pas-pasan. Jadi, mau tak mau ia harus bangun setiap satu hingga dua jam sekali. Entah untuk menyusui, entah untuk mengganti popok bayinya yang selalu menangis jika feces menempel di kulit dan tak segera dibersihkan. Namun semalaman ini, keduanya sama sekali belum beristirahat. Nadia rewel. Sudah hampir satu jam Helia menggendongnya, berjalan bolak-balik dari sisi ranj

