GELOMBANG YANG RAPAT

2556 Kata

“Kita ke mana, Ateu Ia?” tanya Eira begitu mereka melangkah keluar dari lift rumah sakit. “Sebentar, Ateu Ca mau lihat penanda arahnya dulu tuh,” balas Helia. Di samping mereka, Andien tampak frustasi memperhatikan cucu kecilnya yang lain. Bukan karena tak bisa diam, namun justru karena Élina yang terlalu sibuk dengan bawaannya. Boneka beruang girly di pelukan, kotak makan di tangan kiri, toodler cup di tangan kanan. “Sini, Oma bantu bawain, Élina,” ujar Andien, lembut. Élina justru mendongak, memusatkan perhatiannya ke langit-langit. “Wuuuuu…” gumamnya melihat lampu-lampu putih panjang. Andien terkekeh. “Ayo,” ujar Cantika kemudian, ia berjalan lebih dulu. Kedua tangannya menjinjing cup holder berisi gelas-gelas kopi yang dibeli di kafe rumah sakit. “Di sini, kamar VIP ada jam besu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN