“A, fotoin Ia dong?” “Boleh,” jawab Bintang. “Tapi kamu duduk dulu.” “Kenapa sih?” “Biar bagus fotonya,” jawab Bintang. “Bukannya bagusan kalau aku berdiri ya?” “Subyeknya cantik, latarnya amazing. Ngga akan ada bagusan, karena mau diambil dari sudut apa pun pasti hasilnya bagus, Izora.” Helia terkekeh. “Gombal.” “Fakta,” sanggah Bintang. Ia menurut juga. Helia bergeser, duduk di kursi dekat jendela—single chair yang nyaman dan menghadap langsung ke danau. Helia menyilangkan pergelangan kakinya, satu tangan bertumpu di sandaran, satu lagi mengusap perutnya. “Gini, A?” tanyanya sambil sedikit memiringkan tubuh. “Iya. Luwes aja. Jangan terlalu lurus,” tanggap Bintang. “Kamu bukan lagi interview kerja.” Ia lalu menekan tombol rana beberapa kali. “Bagus ngga, A?” “Bagus ngga ya?” g

