“A….” Bintang tersadar dengan satu panggilan itu. Ia melepas rengkuhannya pada Helia, mengangkat tubuhnya sedikit dengan bertumpu di siku. “Kenapa, Izora?” Helia langsung bangun, duduk di tepi ranjang, satu tangan menutup mulut, satu lagi mengusap ulu hati. Napasnya sedikit tercekat, matanya terhalang embun. “Izora?” Perut Helia bergejolak. Ia tak sanggup menjawab pertanyaan Bintang. Ia berdiri, langsung berlari ke kamar mandi. Sesaat kemudian, suara yang familiar itu menyapa pendengaran Bintang. Ia menyusul turun dari ranjang, melangkah cepat, menemukan sang istri yang tengah berjongkok di depan kloset. Bintang mengumpulkan surai Helia, menahannya agar tak tergerai ke sisi wajah. Ia tak bicara. Kelu. Khawatir. Menit berlalu hingga akhirnya tangan Helia terulur, menekan tombol flush

