Bab 96: “Berarti ngga salah ya strategi aku?” gumam Bintang. Tangan Helia yang menggenggam roti dengan selai kacang buatan Nina—istri Bisma—berhenti di udara. “Strategi?” Bintang tersenyum. “Habis meeting yang hari Sabtu itu, keluar dari kafe, kamu kelihatan sedih banget.” Helia mengangguk. “Kebetulan juga Oma ngabarin soal kopinya. Jadi kupikir, kayaknya saat yang tepat untuk bawa kamu ke Bandung,” jelas Bintang. “Dan itu adalah strategi untuk?” “Kamu butuh insight senior. Bukan berarti aku ngga bisa ngasih pandangan. Tapi, kita kan punya hubungan emosional. Aku khawatir kalau aku ngasih nasihat, kamu malah ngerasa kecil atau minder.” Helia menelan kunyahannya, lalu mengatupkan bibir. Caranya memandang Bintang membuat Bintang tau jika dugaannya tak salah. Dan itu bukan keanehan, k

