Hari itu terasa berlalu dengan begitu cepat. Tepat pukul delapan malam, sedan Bintang melaju pelan meninggalkan rumah Anggara dan Anggita. Helia menyandarkan punggung, menatap ke luar jendela. Rumah nan nyaman itu perlahan mengecil di belakang mereka—tempat yang dalam satu malam terakhir bukan hanya memberi perlindungan, namun juga sudut pandang. “Capek, sayang?” tanya Bintang tanpa menoleh. “Capek, A,” jawab Helia, jujur. “Tapi lega dan ngga bad mood gitu.” Bintang mengangguk. Ia paham perbedaannya. Mereka melewati jalanan Bandung yang masih ramai. Kafe-kafe masih beroperasi, orang-orang duduk berkelompok, tertawa, seolah dunia baik-baik saja. Helia sempat berpikir, betapa kontrasnya hidup berjalan; di satu sisi ada orang yang santai menikmati malam, di sisi lain ada dirinya—memila

