EKSKLUSIF

1736 Kata

“Bagus-bagus, ya A?” Helia berdiri di depan etalase sebuah toko di Pacific Place, menatap deretan cangkir keramik berwarna pastel yang disusun rapi. Bentuknya sederhana, tanpa ornamen berlebihan. Ia memperhatikan satu per satu, memperkirakan ukuran, ketebalan bibir cangkir, juga warna glasirnya. Bintang yang berdiri di sampingnya ikut menelisik. “Kamu mau ganti cup?” “Ngga,” jawab Helia. “Cuma… enak aja dilihatnya. Lucu.” “Kenapa, sih, banyak cewek suka menyamakan lucu dengan bagus?” tanya Bintang. “Soalnya, buat cowok, lucu ya lucu—bikin ketawa. Kalau bagus, itu beda lagi. Kadang malah jatuhnya kelihatan konyol.” Helia terkekeh. “Bisa bikin berantem, ya A?” “Sering,” sahut Bintang. “Bunda suka manyun cuma gara-gara nanya ke Ayah, ‘Ini lucu, ya, Do?’ Terus Ayah polos banget jawab, ‘N

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN