STANDAR

2365 Kata

“Habis makan, aku mau nelponin mereka deh,” ujar Helia. “Hmm.” Bintang meliriknya sekilas. “Sekarang makan dulu, habiskan, sambil ngobrol yang ringan-ringan aja. Oke?” Helia mengangguk. Mereka kembali fokus dengan mangkuk masing-masing. Sesekali Helia mengulurkan tisu, membantu Bintang mengelap sudut bibir atau dagunya yang terkena tetesan kuah. Ia tak lagi kikuk saat makan di depan Bintang, sepertinya percuma berhubung kekasihnya itu bahkan sudah melihat Helia di titik terendahnya. “Yang di Paris itu, sepupu Aa?” tanya Helia kemudian. Bintang bergumam. “Gimana ya jelasinnya....” Helia mengernyit, membuat Bintang terkekeh. “Jadi gini... abangnya Teh Yuna pernah nyelametin adiknya Bang Gyan waktu di Budapest. Biasa kan mafia gitu suka kejar-kejaran, culik-culikan,” lanjut Bintang. “I

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN