Pukul 15.42. “Sebentar, Izora,” ujar Bintang sebelum ia membuka pintu. Ia merapatkan syal di leher istrinya. “Yakin mau hari ini ke sana?” “Besok pun sama aja, A. Kan ngga mungkin kita di sini sampai pertengahan musim semi. Iya kan?” Bintang tersenyum, lalu menaikturunkan alisnya. “Ayo?” Helia mengangguk. Terangnya hari mulai meredup saat mereka melangkah keluar dari La Théière Bleue. Langit Versailles tampak pucat, berlapis awan tipis yang bergerak perlahan. Pepohonan gundul berdiri diam, embun beku yang menggantung di ranting-rantingnya tersorot cahaya matahari yang datang dari sudut rendah. Bayangan memanjang di trotoar yang lengang, sementara lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu. Udara dingin menggigit di puncak hidung, namun melegakan begitu menyentuh paru-paru. Mereka m

