ENGGAN MENOLEH

2054 Kata

Helia terbangun pukul lima pagi. Di luar, Paris masih tenggelam dalam gelap. Lampu-lampu jalan belum dipadamkan. Kabut yang menggantung di udara tampak dingin, seolah menahan pagi untuk datang lebih cepat. Ia menoleh ke sisi kirinya, Bintang masih terlelap pulas. Pandangannya beralih ke langit-langit, menatap kosong. Kantuk yang seharusnya masih bergelayut di pelupuk mata sudah enyah entah ke mana. Helia bangkit, duduk di tepi ranjang, tubuhnya sendiri tak sanggup berlama-lama terbaring. Ada sesuatu yang menekan dadanya sejak semalam, tak cukup kuat untuk membuatnya menangis, namun cukup berat untuk membuatnya tak mampu tertidur dalam. Ia meninggalkan ranjang, meraih cardigan, lalu berjalan ke meja kecil. Helia meneguk setengah gelas air, lalu berdiri diam sejenak sebelum melangkah ke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN