Gavin Laksmana selalu percaya bahwa kekuasaan yang stabil tidak pernah dibangun dengan emosi. Itu sebabnya ia tak membanting meja saat laporan terakhir masuk ke emailnya. Tak mengamuk. Tak menelpon siapa pun dengan makian bernada meninggi. Ia hanya membaca ulang beberapa kali, lalu menggeser laptopnya ke samping, menautkan jari-jarinya di atas meja kerja yang terlalu sesak. Théologie masih berdiri setelah ia bersusah payah menghentikan stok bahan utama. Tidak kolaps, tidak pula sekadar di mode bertahan—tea house itu justru semakin tumbuh. Usaha yang seharusnya tersendat malah terlihat rapi, antreannya stabil, engagement-nya naik. Sementara ia, kini bingung memanfaatkan white tea base yang menggunung hasil dari strategi piciknya sendiri. Gavin menyipitkan mata. Ia benar-benar tak menyan

