DIAM MENGERIKAN

2165 Kata

“Kalian mau langsung pulang?” tanya Yudi. “Ngga kok, Pi. Nunggu Papi, Mami, dan Kakak check-in dulu aja,” jawab Helia. Bintang turun lebih dulu. Mobil masih menyala. Ia membuka bagasi, menurunkan koper-koper. Begitu semua penumpang sudah meninggalkan kursi masing-masing, barulah ia mematikan mesin. Suasana bandara cukup nyaman sore itu. Langit menguning, semilir angin berembus, suhu udara pun pas. Suara-suara bertumbukan; roda koper yang beradu dengan lantai, langkah-langkah yang tergesa, serta pengumuman penerbangan yang susul menyusul menggema. Soekarno–Hatta tidak pernah benar-benar sepi. Di jam ini, ramainya tak riuh. Kebanyakan orang berjalan dengan ekspresi serius. Ada yang hendak pulang. Ada yang justru ingin berlama-lama, namun tak punya alasan untuk tinggal lebih lama. “Mau b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN