“Tapi, emangnya sakit banget, A?” Bintang tak menjawab lagi, ia membungkam bibir Helia. Satu per satu tangan Helia diposisikan ke atas kepala oleh Bintang, pergelangan disatukan lalu ditahan agar tak bergerak-gerak. Lutut Bintang lalu bekerja, menggeser kaki Helia. Yang kiri, kemudian kanan. Pintu nan sempit itu terbuka lebar, membuat Helia kaku sesaat. Suaminya itu sudah mencumbuinya sejak malam pertama pernikahan dengan bagian inti Helia yang masih terlarang untuk diakses. Sejenak ia berpikir jika seharusnya ia tak perlu canggung. Namun tetap saja, menyadari pria setampan dan sebugar dewa berniat menyatukan tubuh dengannya, sungguh membuat pipi Helia terasa panas. Bintang berhenti menciuminya sejenak, menatap lekat. “Takut?” Helia mengangguk, lalu menggeleng. Ragu. “Malu....” Bint

