“Feel the world around me. I had no time to choose. What I chose to do. So go easy on me.” Bintang menyemburkan tawa. Mendengar Helia bernyanyi adalah hiburan tersendiri baginya berhubung ada saja nada yang meleset dan tiba-tiba menggelitik telinganya. “Aa iiih!” rajuk Helia. “Atuh lah, Aa ngga butuh alarm handphone atau jam beker buat ngebangunin. Cukup Neng nyanyi aja, auto lenyap mimpi Aa,” goda Bintang. Helia naik ke ranjang, mencubiti Bintang saking kesalnya. Bintang menyergapnya, satu tangan menahan pinggang Helia, bahunya mendorong tubuh istrinya, membuat Helia terbaring di sampingnya. Mereka terdiam di jarak sedekat napas, tawa Bintang masih tersisa di bibirnya, matanya berbinar mendapati Helia ada sedekat itu, nyata dan hangat. “Bangun, Aa!” ujar Helia. “Sudah jam sepuluh l

