PUKULAN

1603 Kata

Fabian tak menjawab. Bahkan mengubah ekspresi datarnya pun tidak. “Saya tanya! Sejak kapan kamu mengkhianati saya?” ulang Gavin. “Berkhianat bagaimana yang Bapak maksud?” balas Fabian. Gavin menegakkan posturnya. Ia meraih tablet di atas mejanya, menyalakan layar, lantas menyodorkan tontonan itu ke depan wajah Fabian. Adalah slide show yang diambil semalam. Sejak ia dan Arani keluar dari rumah sakit, berada di satu mobil, hingga pelukan dan ciuman mereka. Saat gambar-gambar itu berhenti bergerak, Fabian mengembalikan titik pandangnya ke wajah Gavin. Pimpinan tertinggi Laksmana Parfum itu muntab. Geram luar biasa melihat ekspresi Fabian yang sama sekali tak berubah. “BRENGS3K!” pekiknya lalu membanting gadget di tangannya, dan ‘BUGH!’ memukul keras tepat di pipi kiri Fabian. Fabian te

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN