DIJAUHI

1661 Kata

“Aa tuh kepikiran gini, Pa…” suara Bintang terdengar stabil, jelas ia sudah merencanakan gerakan ini dengan matang. “Gimana caranya biar Gavin sibuk ngurusin masalah internal perusahaannya sendiri, sementara kami mulai buka satu per satu bukti kejahatan mereka. Alasan lainnya, biar dia ngga sempat ngerecokin Janitra. Kayaknya dia juga lagi nyiapin narasi buat ngegoyang kepercayaan investor ke Janitra.” Video call tersambung menjelang sore. Dirga muncul di layar, duduk rapi, kemejanya tergulung rapi di pergelangan tangan. Tatapannya tenang, begitu pula ekspresinya. “Oh, kalau gitu, goyang aja dulu sahamnya,” tanggap Dirga, santai. Semua mata di ruang makan kediaman Janitra sontak menatap ponsel. Bintang mengerjap. “Langsung ke sahamnya, Pa?” “Iya dong. Ngga usah ngotorin tangan bikin o

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN