KEJUTAN

1816 Kata

“Kita makan siang dulu, ya, Izora?” tawar Bintang begitu mereka melangkah keluar dari Louvre. Helia mengangguk sambil mengeratkan syal di lehernya. Udara siang itu dingin dengan angin yang berembus pelan. “Mmm… kita cari sekitaran sini aja, ya, A?” balasnya. “Ia ngga pengin jalan jauh. Dingiiin.” “Boleh,” jawab Bintang. “Kamu aja yang pilih. Kan kamu yang punya Paris.” Ia melirik Helia sekilas. “Meski selama kuliah di sini ngga pernah masuk Louvre, kalau urusan kafe mah pasti jago dong?” Helia menoleh, lalu menggebuk lengan Bintang pelan. “Ngeledek aja! Aa tuh emang doyan banget nyari ribut ya?” Bintang terkekeh, tak membela diri. Ia membiarkan Helia memimpin arah dengan langkah yang tak terburu-buru. Mereka menyusuri trotoar di sekitar Rue de Rivoli. Bangunan-bangunan tua dengan jend

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN