“Gaunnya nyaman ngga, Neng?” tanya Bintang, matanya sibuk memindai penampilan Helia dari ujung kepala hingga kaki. Helia mengangguk. “Nyaman kok, A.” Bintang menatap bagian pinggang dress itu, lalu mengeryitkan dahi, bibirnya mengatup agar tak berkomentar sembarangan. Namun, Helia hapal ekspresi kesayangannya itu. Bintang punya keahlian menilai detail tanpa menghakimi, memberi opini tanpa merendahkan. “Pasti ada yang ngga sreg. Ngomong aja, A,” ujar Helia seraya menyelipkan senyum simpulnya. “Hmm... kalau kamu suka, ngga apa-apa kok.” “Aa?” “Takutnya kamu kepikiran,” balas Bintang. “Justru aku tenang kalau Aa ngomong.” Bintang menghela napas pelan. “Oke. Bagian pinggangnya… bagus. Cocok sama badan kamu. Tapi bahunya... ngasih efek terlalu lebar. Kayaknya akan lebih bagus yang mode

