RUANG KEDAP

1537 Kata

Dapur kembali sunyi, piring-piring sudah tersusun rapi di rak pengering. Kepala Helia masih terasa berat, sesekali berdenyut, namun pikirannya… tak lagi keruh. Ia duduk di kursi makan, menatap meja yang masih menyisakan jejak sarapan. Bintang sudah membersihkan semuanya tanpa banyak bicara, seolah paham bahwa hari ini bukan hari untuk diskusi panjang. Juga bukan hari untuk membiarkan Helia melakukan banyak hal sementara pikirannya masih dikuasai badai. Bintang memberinya jarak—bukan jarak emosional, melainkan ruang bernapas. Helia menggenggam ponselnya. Layarnya menyala, lalu kembali padam. Berkali-kali. “A,” panggilnya akhirnya. Bintang yang tengah menuang air ke mug menoleh. “Bingung gimana bilangnya ke Kak Arani.” Bintang meletakkan jug di meja tanpa menimbulkan bunyi, meneguk isi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN