HARGA SEBUAH KERAJAAN

1836 Kata

Sebelas menit lewat tengah hari saat Bintang melangkah masuk ke unitnya. “Nananaaa,” seru Nadia dari baby chair-nya. Mulutnya belepotan, tangannya juga demikian. Dan saat Bintang muncul di titik pandangnya, ia langsung tersenyum. “Ayayaaah!” Helia sontak tergelak. “Anak Bunda langsung kepo kalau dengar chime pintu.” “Ayah cuci tangan sebentar, Nad,” ujar Bintang seraya melangkah ke wastafel. Ia membasuh tangannya sambil diperhatikan sang putri yang seolah ingin melompat dari kursi tingginya. “Sakedap, Neng. Sabar atuh.” “Ayah!” “Aya naon sih Ayah kok dimarahin mulu? Galak da Neng Nadia mah.” “Kan like father like daughter, Ayah,” timpal Helia. Bintang terkekeh. “Aa sudah makan siang?” tanya Helia kemudian. “Belum, Izora.” “Ayam penyet mau ngga, A? Aku kok kepingin ya? Ada lalapan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN