TIGA JAM SAJA

2348 Kata

Sabtu, 08:10 pagi. Kali ketiga Helia berdiri di depan kulkas dengan pintu terbuka, sejak lima belas menit lalu. Ia memperhatikan chiller, memeriksa barisan botol ASI perah yang tersusun rapi dengan label tanggal dan jam. Ia memeriksa lagi, membaca kembali agar urutannya tak salah. “Bund, ASI perahnya yang label ungu dulu ya? Sudah Ia nomorin juga mana yang bisa diminum Nadia duluan,” ujar Helia, kali ini tanpa menoleh ke ibu mertuanya. Bintang menggaruk kepalanya yang tak gatal, tak jadi mengangkat cangkir kopinya. Jujur saja, ia pusing sendiri melihat Helia yang mundar-mandir sedari tadi. “Urutannya sudah kamu jelasin tiga kali, Izora,” ujarnya kemudian, datar, lalu menyesap kopinya. “Empat,” koreksi Helia. “Tadi kan aku jelasin ke Ayah juga.” Edo terkekeh. Helia menutup pintu kulk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN