Pintu rumah terbuka. Seorang gadis kecil berlari masuk. “Assalamu’alaikum, Muya, Buya! Eira pulang!” Anggita dan Helia yang tengah berkolaborasi di dapur meninggalkan kerepotan, beranjak mendekat ke sumber suara. “Cicitnya Buya pulang, ada Neng Eira.” Anggara menyambut lebih dulu. “Buya ngapain?” tanya Eira. “Bersihin kolam renang, ambilin daun,” jawab Anggara. “Abah aja,” sahut Eira. Ia lalu menoleh ke sang ayah yang berdiri di belakangnya. “Abah tolong bantuin Buya, geura.” (cepetan) Bumi terkekeh. “Oke, sayangnya Abah.” “Eira bawa apa itu?” tanya Anggara kemudian, mendelik ke kotak makan yang dibawa bocah itu. “Ini kue pancong, punya Mamang Bintang,” ujar Eira. “Eira ngga boleh makan.” Bintang duduk di anak tangga teratas, menyaksikan scene menggemaskan di lantai bawah itu. “

