GALAKSI BARU

1855 Kata

Bintang melajukan mobil meninggalkan Jakarta seperti orang yang kabur dari rapat panjang. Helia duduk di sampingnya, memeluk tasnya, sementara di cup holder terjepit satu kaleng kecil berisi teh yang tadi ia ambil dari Théologie. Bintang menyetir dengan satu tangan, tangan lainnya sesekali mengetuk setir mengikuti lagu yang mengalun mengisi kabin. Lucunya, entah kenapa tempo lagu di daftar putarnya selalu terasa lebih cepat saat ia memecah tol. “Masih kepikiran vendor-vendor?” tanya Bintang, tatapannya tetap ke depan. Helia menoleh. “Dikit, A.” “Dikit tuh artinya masih,” sahut Bintang. Helia menghela napas, lalu tersenyum simpul. “Minggu depan, vendor-vendor yang direkomendasikan Bunda Hana, Papa Ga, Mommy Nadine, dan Onti Lian... pada mau ngirim sample, A.” “Alhamdulillah.” “Mudah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN