Keputusan ini, yang diambil Aya di tengah tangisan dan nasihat orang tuanya, bukanlah tanda menyerah, melainkan strategi bertahan hidup. Ia sadar, ultimatum perpisahan tidak cukup membuat Tama sadar. Ia harus berada di medan pertempuran untuk mengumpulkan bukti dan menegaskan kembali kendalinya atas keuangan si kembar. Aya kembali ke kontrakan bersama Alif dan Arif pada hari Minggu sore, dengan hanya membawa barang-barang esensial. Tama terkejut melihat kedatangan mereka. Ia menyambut Aya dengan wajah penuh kelegaan yang dipaksakan. "Ay, kamu kembali? Aku senang sekali! Aku janji, aku akan berubah," kata Tama, mencoba memeluk Aya. Aya menepis pelukan itu. "Aku kembali untuk anak-anak, Tama. Bukan untukmu. Aku kembali untuk mengurus Dapur Aya dan memastikan Alif dan Arif tidak kekura

