Tidak Bisa Bergantung Pada Keluarga.

1125 Kata
​"Tapi setidaknya, ada dana masuk, Tam. Aku nggak enak lihat kamu lembur terus sampai wajahmu pucat. Aku merasa bersalah," balas Aya. ​Tama menggeleng. "Aku tidak mau anak-anakku dirawat oleh orang asing. Pengorbananmu untuk berhenti bekerja sudah final, Ay. Aku minta kamu fokus di rumah. Kita harus cari solusi lain, bukan kamu kembali ke kantor." ​Tama kemudian mengajukan solusi yang menurutnya logis dan hemat biaya: menitipkan Alif dan Arif pada Ajeng, ibunya. Ide ini terasa menjanjikan. Setidaknya, Ajeng adalah keluarga, dan mereka bisa menghemat biaya pengasuh. ​Keesokan harinya, mereka membawa si kembar berkunjung ke rumah Ajeng. Setelah Ajeng selesai bermain sebentar dengan cucu-cucunya, Tama dan Aya duduk bersamanya. ​"Bu, kami mau minta bantuan," ujar Tama, memulai pembicaraan dengan hati-hati. "Aya mau cari kerja lagi, Bu, karena uang kami benar-benar tipis. Boleh kami titipkan Alif dan Arif di sini saat kami bekerja?" ​Reaksi Ajeng jauh lebih buruk dari yang mereka bayangkan. Wajahnya langsung mengeras. ​"Tidak bisa!" tolak Ajeng keras, nadanya meninggi. "Kalian pikir mengurus dua bayi itu mudah? Kalian pikir Ibu ini pembantu? Dulu, Ibu mengurus tiga anak, kalian semua, tanpa bantuan siapa pun! Ibu tidak mengeluh dan tidak pernah membebani orang tua Ibu!" ​Ajeng melipat tangannya di d**a, matanya menatap tajam ke arah Aya. "Kalian yang berbuat, kalian yang harus menanggung! Dulu, Aya sudah kami izinkan berhenti kerja, seharusnya kalian sudah memikirkan risikonya! Kalian mau saya capek-capek mengurus dua bayi rewel, sementara kalian berdua enak-enak kerja? Tidak, Tama! Ibu sudah tua. Ibu punya urusan sendiri. Urus anakmu sendiri!" ​Ajeng kemudian menyindir, "Lagi pula, anak-anak kalian ini kan kembar. Kebutuhan mereka banyak. Kamu harusnya sudah siap sejak awal!" ​Penolakan Ajeng yang sangat dingin dan egois itu membuat Aya sakit hati. Ia merasa Ajeng tidak menghargai pengorbanan yang sudah mereka lakukan. Namun, Aya mencoba mengambil sisi positifnya. ​"Tidak apa-apa, Tam," bisik Aya pada Tama, menenangkan suaminya yang tampak marah pada sikap Ajeng. "Ibu mungkin memang sudah lelah. Kita cari solusi lain." ​Malam harinya, setelah kembali ke rumah, Tama dan Aya memutuskan untuk menghubungi Sarah, Ibu Aya. Dengan rasa sungkan, mereka menjelaskan dilema mereka. ​"Bu, kami sedang kesulitan mencari pengasuh untuk Alif dan Arif. Apa Ibu bersedia kami titipkan cucu-cucu Ibu di sana?" tanya Aya melalui telepon. ​Sarah tidak langsung menolak, namun ia mengajukan pertanyaan logis yang membuat Tama dan Aya terdiam. ​"Ibu bukannya tidak mau mengurus cucu-cucu Ibu, Nak. Tentu Ibu senang," kata Sarah lembut. "Tapi, kalian harus realistis. Rumah Ibu jauh, Tama. Apa kalian yakin mau membawa pulang-pergi si kembar setiap hari, dari pagi buta sampai sore hari?" ​"Pagi sebelum berangkat kerja kalian titipkan ke Ibu, lalu sore pulang kerja kalian jemput lagi. Perjalanan itu bisa memakan waktu hampir dua jam sekali jalan, Tama, Aya," jelas Sarah. "Si kembar yang masih sangat rentan fisiknya bisa terganggu. Mereka akan rewel, lelah di jalan, dan sistem imun mereka bisa menurun karena terlalu sering terpapar udara luar." ​Sarah memberikan saran yang menusuk hati mereka. "Kalau mau dititipkan, harusnya kalian hanya bertemu mereka di setiap akhir pekan. Biarkan mereka tinggal di sini selama weekday agar tidak bolak-balik." ​Ide bertemu Alif dan Arif hanya di akhir pekan langsung ditolak mentah-mentah oleh Tama. ​"Tidak, Bu! Aku tidak mau! Aku tidak mau melewatkan masa pertumbuhan mereka setiap hari. Aku bekerja keras justru untuk bisa melihat mereka setiap malam!" seru Tama, suaranya dipenuhi penyesalan. ​Aya pun menggeleng, air mata kembali membasahi pipinya. "Aku juga tidak mau, Bu. Mereka masih terlalu kecil." ​Sarah menghela napas. "Kalau begitu, Nak. Kalian belum menemukan solusinya. Kalian harus cari cara lain. Kalaupun kalian memaksakan diri bekerja, kalian harus memastikan kedua anak itu mendapatkan perawatan yang layak dan tidak terbebani oleh jarak. Ini adalah risiko dari memiliki bayi kembar yang membutuhkan perhatian ganda." ​Telepon terputus. Tama dan Aya saling pandang di tengah keheningan. Mereka telah menghadapi penolakan keras dan nasihat logis yang membungkam semua ide mereka. ​Tama merasa sangat bersalah. Ia telah membuat Aya mengorbankan karier, dan ia tidak mampu menafkahi mereka secara layak. Ia juga tidak bisa menemukan solusi logistik untuk pekerjaan baru Aya. ​"Maafkan aku, Sayang," bisik Tama, memeluk Aya erat. "Aku benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku tidak mau kamu kerja. Aku tidak mau si kembar sakit. Tapi uang kita ...." ​Aya membalas pelukan suaminya. Ia tahu, mereka sudah mencapai titik kritis. Mereka tidak bisa lagi bergantung pada keluarga. Mereka harus mencari solusi yang datang dari diri mereka sendiri, solusi yang bisa dilakukan Aya dari rumah, tanpa mengorbankan perawatan si kembar. *** ​Rumah yang dulunya hening kini penuh dengan suara tangisan bayi yang silih berganti. Aya kini harus mengembangkan multitasking tingkat tinggi. Hari-harinya terbagi menjadi siklus konstan: menyusui si kembar (dengan suplementasi sufor yang terpaksa dibeli), mengganti popok yang tak terhitung jumlahnya, menidurkan, mencuci, dan mengulang. Ia belajar menggendong Arif yang rewel sambil mengayun buaian Alif dengan kaki. Dapur dan ruang tamu mereka kini disulap menjadi nursery dadakan, dipenuhi tumpukan diapers dan peralatan bayi. ​Meskipun kelelahan menggerogoti, Aya menemukan kebahagiaan saat Alif tersenyum pertama kali dan saat Arif meletakkan kepala kecilnya di bahu Aya setelah menyusu. Ia selalu memastikan rumah bersih, dan ia selalu menyiapkan bekal sederhana untuk Tama. ​Tama, meskipun terbebani dengan tanggung jawab finansial di kantor, tidak pernah menunjukkan kelelahan atau ketidakpedulian saat berada di rumah. Ia tahu bahwa peran Aya jauh lebih berat. ​Setiap sore, sekitar pukul tujuh, Tama akan pulang. Rutinitasnya tidak pernah berubah: Ia akan mencuci tangan dan berganti pakaian kerja, lalu langsung mengambil alih jaga malam. ​"Aku ambil alih, Sayang. Kamu mandi dan makan yang benar, jangan cuma makan sisa," kata Tama, langsung mengambil alih Arif yang sedang rewel dari gendongan Aya. ​Tama selalu memastikan Aya memiliki waktu minimal satu jam untuk dirinya sendiri, meskipun Tama sendiri harus menggunakan waktu itu untuk mengganti popok, menenangkan si kembar, atau mencuci botol s**u. ​Namun, kelelahan Tama semakin akut. Ia harus begadang hampir setiap malam karena tangisan si kembar, dan saat pagi ia harus segera berangkat kerja. Lingkar hitam di bawah matanya semakin pekat, dan ia sering tertidur pulas di sofa kecil saat berhasil menidurkan salah satu bayi. ​"Kamu jangan tidur di sofa, Tam. Pindah ke kamar," tegur Aya, melihat Tama tertidur pulas dengan kaus yang masih sedikit lembap karena keringat. ​"Aku takut mengganggu kamu dan si kembar kalau aku ke sana. Lagipula, aku harusnya freelance desain sebentar lagi," gumam Tama, matanya masih terpejam, otaknya tidak pernah berhenti memikirkan uang. ​Aya memapah Tama ke kamar. Ia mencium kening suaminya yang penuh keringat dan tahu, suaminya bekerja keras hingga batas fisiknya. ​Di kantor, Tama adalah junior staff yang dikenal pekerja keras dan ambisius. Namun, setiap hari, ia dihadapkan pada kontras yang menyakitkan antara realitas hidupnya dan kehidupan para atasan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN