Kontras Kehidupan di Kantor.

1069 Kata
​Puncaknya terjadi saat CEO perusahaannya, Eros Parameswara, datang berkunjung. Eros adalah CEO yang sangat jarang terlihat di kantor. Ia adalah pewaris tunggal perusahaan properti besar, seorang pria yang selalu tampil flawless, mengenakan setelan mahal, dan memiliki aura kesuksesan yang tak terbantahkan. ​Siang itu, Tama melihat Eros turun dari lift pribadi menuju ruang rapat. Eros dikawal beberapa manajer senior dan asisten yang sigap. Wajahnya tenang, tidak ada sedikit pun kerutan khawatir atau kantung mata gelap seperti yang dimiliki Tama. ​Dari balik bilik kerjanya, Tama memperhatikan Eros. ​Dia bahkan tidak tahu bagaimana rasanya harus memilih antara membeli popok atau membayar listrik bulan ini, pikir Tama getir. Dia tidak tahu bagaimana rasanya begadang sambil menghitung berapa lama uang gajinya akan bertahan. ​Tama membayangkan jika dirinya berada di posisi Eros. Menjadi CEO, atau setidaknya pewaris, pasti akan menjadi hidup yang penuh kebanggaan dan keberuntungan. Ia bisa memastikan Aya memiliki ASI yang melimpah tanpa stres finansial, ia bisa menyewa perawat terbaik untuk si kembar tanpa perlu Aya mengorbankan karier. Ia tidak perlu pusing mencari lembur atau freelance. Ia bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. ​Lamunannya buyar saat salah satu manajer senior memanggilnya untuk membawa dokumen. Tama kembali ke kenyataan. Dia hanyalah junior staff, seorang perintis yang memulai segalanya dari nol, bukan pewaris yang tinggal menikmati kemakmuran. ​Apalah aku ini, batin Tama. Ia membandingkan jam kerjanya yang panjang dengan waktu berkualitas yang mungkin dihabiskan Eros bersama keluarganya. Perbandingan itu menyakitkan. Tama bekerja keras, tetapi ia merasa jarak antara dirinya dan kehidupan ideal yang dimiliki Eros terasa begitu jauh, seolah terpisah oleh jurang yang tak terjangkau. ​Realitas hidupnya adalah tumpukan popok, tagihan s**u formula, dan wajah Aya yang lelah. ​Saat Tama kembali ke mejanya, ia mengambil ponsel dan membuka foto Alif dan Arif. Rasa lelahnya seketika mereda, digantikan oleh tekad yang membara. Ia mungkin bukan pewaris kekayaan, tapi ia adalah pewaris tanggung jawab. Ia harus bekerja keras, tidak peduli seberapa lelahnya, demi kedua jagoannya di rumah. ​Malam itu, saat pulang, Tama memeluk Aya erat-erat. Ia tidak menceritakan pertemuannya dengan Eros. Ia hanya mengatakan, "Aku lembur lagi besok, Sayang. Ada proyek besar yang harus diselesaikan. Semoga bonusnya lumayan." ​Aya mengangguk, melihat kelelahan di mata suaminya. Ia tahu, Tama berusaha mati-matian. Peran Tama sebagai tulang punggung tunggal kini menjadi ujian terberat pernikahan mereka. ​*** ​Kekurangan finansial kini bukan lagi sekadar ancaman, melainkan kenyataan pahit yang mereka rasakan setiap kali Aya membuka kantong popok yang sudah hampir kosong atau saat Tama menatap angka di struk pembelian s**u formula. Gaji Tama yang sudah ditambah jam lembur dan proyek freelance kecil-kecilan hanya cukup untuk menutupi pengeluaran paling dasar, tanpa menyisakan ruang sedikit pun untuk menabung apalagi dana darurat. ​Pada titik kelelahan dan tekanan finansial yang akut inilah, konflik datang dari pihak yang paling tidak terduga, namun paling ditakuti Tama: ibunya, Ajeng. ​Satu sore yang dingin, Tama baru saja tiba di rumah, wajahnya lelah luar biasa. Aya segera menyerahkan Arif kepadanya—si kembar sedang memasuki fase rewel yang menuntut semua energi mereka. Saat Tama sedang mencoba menidurkan Arif sambil makan malam sisa, teleponnya berdering. Itu panggilan dari Ajeng. ​Tama menghela napas panjang. Ia sudah menduga panggilan ini, dan ia tahu ini bukan panggilan menanyakan kabar cucu. ​"Halo, Bu. Ada apa?" tanya Tama, nadanya seformal mungkin, agar Ajeng tidak menganggapnya terlalu santai. ​Di ujung telepon, suara Ajeng terdengar cepat, tidak sabar, dan penuh perintah, sama sekali tidak ada basa-basi menanyakan kabar Alif dan Arif. ​"Tama, Ibu telepon ini bukan untuk basa-basi. Ini soal penting," ujar Ajeng tanpa jeda. "Ibu butuh uang. Rita sudah mau bayar uang kuliah semester ini, dan Tari juga harus bayar uang sekolah triwulan. Deadline-nya besok." ​Tama seketika merasa dadanya sesak. Meminta uang dengan deadline satu hari, tanpa pemberitahuan sebelumnya, di tengah bulan yang baru saja berlalu sepuluh hari. ​"Bu, saya baru saja gajian minggu lalu, dan uangnya sudah dialokasikan untuk sewa kontrakan dan kebutuhan bayi," jawab Tama, berusaha menjaga kesabaran. "Berapa banyak yang Ibu butuhkan?" ​Ajeng menyebutkan angka yang membuat Tama hampir menjatuhkan teleponnya. Angka itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan, mencakup denda keterlambatan dan biaya tambahan lainnya. ​"Totalnya sekian. Cukup untuk biaya Rita dan Tari. Jangan kurang!" tekan Ajeng. "Kamu harus tanggung jawab. Mereka kan adik-adikmu. Mereka berhak sekolah yang layak. Toh, kamu sekarang sudah punya gaji tetap, punya pekerjaan bagus." ​"Tapi Bu, kami baru punya anak kembar, Bu. Kebutuhan mereka dua kali lipat. Saya baru saja membeli sufor dan popok dalam jumlah besar, dan kami harus bayar uang vaksinasi Alif minggu depan. Saya sungguh tidak punya uang sebanyak itu sekarang!" protes Tama, suaranya mulai terdengar putus asa. ​Aya, yang sedang menyusui Alif di dekat Tama, mendengarkan seluruh percakapan itu. Wajahnya mengeras, tatapannya penuh amarah yang tertahan. Ia melihat bagaimana Ajeng tidak sedikit pun menghargai perjuangan hidup baru mereka. ​Ajeng tertawa sinis di telepon, tawa yang menusuk hati Aya. "Anak-anak? Ah, itu kan urusanmu dan Aya. Popok dan s**u itu kan pengeluaran rutin. Kalian bisa atur lah! Ini kewajibanmu sebagai anak sulung laki-laki. Sekolah adik-adikmu itu investasi masa depan, bukan sekadar popok sekali pakai! Uang Rita itu harus dibayar segera. Jangan sampai Rita telat kuliah gara-gara kamu sibuk urus popok!" ​Ajeng tanpa sadar (atau mungkin sengaja) telah merendahkan dan meremehkan seluruh perjuangan rumah tangga Tama dan Aya, menganggap bayi kembar mereka sebagai pengeluaran remeh, sementara pendidikan Rita dan Tari adalah prioritas mutlak. ​Tama tahu, berdebat dengan ibunya tidak akan ada gunanya. Ajeng akan menggunakan senjata pamungkasnya: rasa bersalah dan kewajiban anak. Ia akan mengingatkannya pada semua pengorbanan masa lalu Ajeng. ​"Baik, Bu. Saya usahakan. Tapi tidak bisa sekaligus," kata Tama, menyerah. "Saya akan kirimkan sebagian malam ini. Sisanya akan saya coba cari dari hasil freelance." ​Setelah janji itu dibuat, Ajeng langsung menutup telepon tanpa mengucapkan terima kasih. ​ ​Tama meletakkan ponselnya, wajahnya tampak suram dan penuh penyesalan. Ia tahu ia telah mengkhianati perjanjiannya dengan Aya untuk memprioritaskan anak-anak mereka. ​Aya meletakkan Alif yang sudah terlelap di buaian. Ia berjalan mendekati Tama. Matanya tajam, tidak ada lagi kelembutan yang biasa ia tunjukkan saat melihat suaminya lelah. ​"Kamu akan memberikannya, Tam?" tanya Aya, suaranya rendah dan menusuk. ​Tama tidak berani menatap Aya. "Aku ... aku tidak bisa menolak, Sayang. Itu untuk biaya kuliah Rita. Kalau tidak dibayar, Rita bisa dikeluarkan. Ibuku ... kamu tahu bagaimana Ibu. Dia akan mempermalukan aku ke semua orang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN