Kebohongan Pertama.

1086 Kata

​Namun, pengkhianatan itu tetap ada. ​Suatu hari, Aya melihat sticker toko elektronik terkenal di rumah Ajeng. Kebetulan, Ajeng menelepon Aya (kali ini bukan untuk marah, melainkan untuk pamer). ​"Aya, kamu harus lihat kulkas baruku! Bagus sekali! Sekarang Ibu bisa menyimpan stok kuemu lebih banyak," kata Ajeng bangga. ​Aya terkejut. "Kulkas baru, Bu? Dari mana dananya?" ​"Dari Tama, dong! Siapa lagi? Anak Ibu yang paling bertanggung jawab," jawab Ajeng dengan nada yang tidak mungkin disembunyikan. ​Jantung Aya seketika mencelos. Ia tahu persis bagaimana keadaan finansial mereka. Membeli kulkas baru adalah kemewahan yang mustahil. Apalagi, Tama tidak pernah membicarakan hal itu dengannya. ​Aya menutup telepon dengan tangan gemetar. Ia tidak bertanya pada Tama saat itu juga. Ia hanya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN