Pilihan Pahit dan Pengorbanan.

991 Kata
​Aya menggenggam tangan Tama dengan erat. "Kita adalah tim, Tama. Aku tidak bisa melihatmu hancur sendirian. Kamu bilang aku adalah manajer rumah tangga? Manajer sejati tahu kapan saatnya harus mencari sumber daya tambahan. Aku harus bekerja dari rumah. Aku tidak akan kembali ke kantor. Aku akan melakukan sesuatu yang bisa aku kerjakan sambil mengurus si kembar. Aku akan membantu, dan kamu harus mengizinkannya." ​Tama menatap mata Aya, melihat ketegasan dan tekad yang kini menyala dalam dirinya. Ia melihat kelelahan di sana, tapi ia juga melihat harapan. Tama tahu, ia tidak bisa lagi menolak inisiatif istrinya. Tekanan dari Ajeng dan kenyataan bahwa anak-anak mereka harus mengorbankan kesehatan adalah bukti bahwa janji Tama untuk menanggung semuanya sendirian telah gagal. ​"Tapi janji ya, Sayang. Jangan sampai kamu sakit. Fokus utamamu tetap Alif dan Arif," kata Tama, akhirnya menyerah. ​"Tentu saja," jawab Aya, memeluk Tama. "Kita akan hadapi ini berdua. Jangan pernah merasa sendiri lagi, Tam." ​Malam itu, beban di pundak Tama terasa sedikit lebih ringan karena dibagikan. Sementara bagi Aya, curahan hati Tama menjadi pemahaman yang pahit sekaligus motivasi baru. Ia tidak bisa lagi hanya menunggu Tama. Ia harus mengambil alih peran sebagai penyelamat finansial dari dalam rumah. ​Setelah diskusi yang emosional dengan Tama, Aya setuju untuk memberikan sisa uang yang mereka miliki kepada Ajeng, meskipun itu berarti mereka harus menunda vaksinasi Alif dan Arif serta beralih ke s**u formula dan popok dengan kualitas paling rendah. Keputusan itu adalah pengorbanan yang menyakitkan, namun dilakukan demi menenangkan Ajeng dan memberi kedamaian bagi Tama. ​Uang yang disanggupi oleh Tama hanya sekitar 60% dari total yang diminta Ajeng, sisanya ia berjanji akan menyusul dari hasil freelance mendesak. Uang itu diberikan oleh Tama secara tunai di rumah Ajeng, pada hari yang sama saat Aya dan Tama harusnya membawa si kembar untuk vaksinasi. ​Aya tidak ikut ke rumah Ajeng. Ia tahu, pertemuannya hanya akan memicu konflik baru. Ia memilih tinggal di rumah, mengurus si kembar, sambil hatinya merasa cemas dan marah. ​Tama kembali ke rumah dengan wajah yang lebih gelap dari biasanya. Ia segera memeluk Aya tanpa berkata-kata, tubuhnya terasa dingin meskipun cuaca sore itu cukup hangat. ​"Bagaimana, Tam? Apa Ibu menerimanya?" tanya Aya, suaranya pelan. ​Tama mengangguk kaku. "Ibu menerimanya, tapi ...." ​Belum sempat Tama menyelesaikan kalimatnya, ponselnya berdering. Itu panggilan dari Ajeng. Ajeng rupanya tidak puas dengan jumlah yang baru saja ia terima. Tama menyalakan loudspeaker karena tangannya sibuk menggendong Arif. ​"Tama! Kamu pikir Ibu ini mengemis? Uang yang kamu berikan ini tidak ada separuhnya dari yang Ibu minta!" semprot Ajeng dari seberang, suaranya keras dan tajam, mengabaikan fakta bahwa ia adalah seorang nenek yang baru saja berbicara dengan putranya yang kelelahan. ​"Bu, saya sudah bilang, itu yang bisa kami usahakan saat ini. Saya akan kirim sisanya dari hasil freelance akhir minggu ini," jawab Tama sabar. ​"Alasan! Kamu pikir Ibu tidak tahu? Kamu sibuk mengurus istrimu yang manja itu! Seharusnya kamu lebih memprioritaskan pendidikan adik-adikmu, daripada sibuk membelikan s**u dan popok mahal!" Ajeng meninggikan suara, puncaknya ia menyerang Aya secara langsung. ​"Kenapa istrimu tidak ikut bantu? Dulu dia punya gaji besar! Sekarang kerjanya hanya di rumah, mengurus dua anak, dan bahkan tidak bisa menyusui dengan benar. Hanya jadi beban! Kenapa dia tidak pinjam uang pada orang tuanya saja? Dia itu sudah tidak punya penghasilan, harusnya tahu diri!" ​Kata-kata Ajeng menghantam Aya seperti palu godam. Aya yang sedang berdiri di dekat Tama seketika membeku. Kata "beban" itu berdering tajam di telinganya. Seluruh pengorbanannya melepaskan karier dihancurkan hanya dalam satu kalimat pedas. ​Tama segera membela istrinya. "Bu! Jaga bicara Ibu! Aya sudah mengorbankan karier demi mengurus cucu Ibu! Dia sudah bekerja keras di rumah. Saya tidak mau dengar Ibu bicara seperti itu lagi!" ​"Bekerja keras apa?! Bekerja keras itu menghasilkan uang, Tama! Sekarang dia hanya menghabiskan uangmu! Kamu sebagai anak sulung laki-laki, harus tegas pada istrimu. Jangan termakan rayuan agar kamu di rumah terus! Uang yang kamu berikan ini benar-benar tidak sesuai! Katakan pada istrimu, kalau dia tidak punya uang, setidaknya jangan menghabiskan uangmu untuk pengeluaran yang tidak perlu!" Ajeng mengakhiri serangannya, lalu membanting telepon hingga sambungan terputus. ​Keheningan yang tersisa setelah telepon terputus terasa lebih berat daripada tangisan si kembar. Aya terdiam, air matanya perlahan menetes. Ia tidak bisa menahan rasa sakit dan amarah yang luar biasa. Ia adalah seorang sekretaris CEO, seorang wanita berpendidikan dan mandiri. Kini, ia direndahkan, dianggap "tidak sesuai" dan "beban" hanya karena ia memilih menjadi ibu rumah tangga. ​Tama segera memeluk Aya, meninggalkan Arif yang kini mulai rewel. "Jangan dengarkan, Sayang. Jangan dengarkan! Ibumu sedang stres, dia tidak bermaksud begitu," kata Tama, mencoba menenangkan. ​"Dia bermaksud, Tama," potong Aya dingin. "Dia selalu bermaksud. Dia merendahkan seluruh perjuangan kita. Dia meremehkan pengorbananku. Dia pikir, menjadi ibu rumah tangga itu hanya duduk-duduk sambil menghabiskan gajimu!" ​Aya melepaskan pelukan Tama, lalu menghapus air matanya dengan kasar. Di dalam dirinya, rasa sakit itu kini berubah menjadi tekad yang membara. Kritik Ajeng yang pedas, penghinaan atas status barunya, justru menjadi energi pendorong terbesar yang pernah ia rasakan. ​"Aku tidak bisa begini terus, Tam. Aku tidak bisa membiarkan diriku terus-terusan direndahkan hanya karena aku tidak punya penghasilan sendiri," ujar Aya, suaranya kini penuh api. "Aku harus buktikan pada Ibumu, pada Rita, pada Tari, dan terutama pada diriku sendiri, bahwa aku bisa menjadi ibu yang baik dan bisa menghasilkan uang." ​Aya berjalan ke dapur kecil mereka. Ia membuka lemari, menatap mixer dan oven yang selama ini hanya digunakan untuk membuat kue-kue sederhana saat acara keluarga. ​"Aku harus mulai," kata Aya, menoleh ke Tama. "Aku harus mulai membuat kue untuk dijual online. Aku tidak bisa menunggu lagi. Kita butuh uang untuk vaksinasi Alif, dan kita butuh uang agar Ibumu tidak lagi berani memandangku sebelah mata." Tama, melihat kobaran semangat di mata istrinya, akhirnya merasa lega. Ia tahu ini adalah solusi terbaik. Aya membutuhkan kesibukan untuk mengalihkan stres dan membuktikan dirinya, dan mereka membutuhkan uang itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN