"Jadi, kamu lebih takut dipermalukan oleh Ibumu daripada melihat anak-anakmu tidak mendapatkan vaksinasi tepat waktu?" balas Aya, nada suaranya sedikit meninggi. "Uang itu, Tama! Uang itu sudah kita alokasikan untuk vaksinasi Alif minggu depan dan untuk membeli stok sufor yang sudah menipis. Itu bukan uang sisa, itu uang kebutuhan hidup Alif dan Arif!"
Tama merasa sangat bersalah. Ia memegang tangan Aya. "Aku tahu, Sayang. Aku tahu. Tapi Ibu tidak akan berhenti menekan sampai aku memberikannya. Aku anak sulung, Ay. Itu yang selalu ia katakan padaku."
Aya menarik tangannya, amarahnya meluap-luap. Ia tidak marah pada Tama, tapi pada Ajeng yang kejam dan egois.
"Kewajibanmu sekarang adalah aku dan anak-anakmu, Tama! Mereka itu darah dagingmu. Kita baru saja mengorbankan karierku, agar kamu bisa fokus menafkahi kita! Dan sekarang, seluruh perjuangan kita diremehkan hanya demi menutupi tanggung jawab yang seharusnya diemban Ibumu!"
Aya berjalan ke meja makan, mengambil buku anggaran mereka. "Ayo, hitung ulang," perintah Aya dingin. "Kalau uang itu diberikan, dari mana kita menambal kekurangannya?"
Di tengah suara tangisan Arif yang baru terbangun, mereka mulai menghitung. Tama harus mengirimkan sekitar 60% dari sisa gajinya di bulan itu kepada Ajeng.
"Sisa uang kita ... hanya cukup untuk membayar sewa kontrakan," bisik Tama, matanya memerah. "Kita tidak punya cukup uang untuk beli sufor lagi, dan uang vaksinasi Alif harus ditunda."
Aya menutup mata, menahan rasa sakit. Menunda vaksinasi adalah risiko besar untuk bayi kembar mereka yang rentan. Tapi mereka tidak punya pilihan.
"Tunda vaksinasi seminggu. Aku akan cari cara," putus Aya, mengambil keputusan yang menghancurkan hatinya sebagai seorang ibu. "Kita beli sufor yang harganya paling murah dulu, dan popok, kita coba pakai popok kain lagi semaksimal mungkin. Aku akan kembali pakai popok kain sampai kamu dapat uang freelance lagi."
Tama menatap Aya, melihat betapa besar pengorbanan yang harus istrinya tanggung karena desakan ibunya.
"Aku janji, Ay. Ini yang terakhir. Aku akan bicara serius pada Ibu. Aku tidak bisa membiarkan anak-anakku mengorbankan kesehatan mereka demi biaya kuliah adik-adikku," janji Tama, meskipun ia tahu janji itu mungkin akan sulit ditepati jika Ajeng kembali menekan.
Di tengah keheningan yang mencekam, Aya memeluk Tama. Mereka kini tahu bahwa musuh terbesar mereka bukan hanya kemiskinan, tetapi juga keluarga Tama yang tidak suportif, yang terus menganggap Tama sebagai sumber pendapatan tak terbatas, tanpa peduli pada keluarga kecilnya.
"Kita hanya punya kita, Tam," bisik Aya. "Aku akan mulai memikirkan cara agar aku bisa dapat uang dari rumah. Kita tidak bisa begini terus."
Keputusan Ajeng untuk meminta dana di tengah krisis finansial itu bukan hanya menambah beban, tetapi menjadi titik didih yang mendorong Aya untuk benar-benar kembali mencari jalan keluar finansial, terlepas dari larangan Tama.
Setelah insiden permintaan Ajeng untuk biaya kuliah Rita dan uang sekolah Tari, suasana di antara Tama dan Aya dipenuhi ketegangan yang pahit. Bukan ketegangan karena bertengkar, melainkan ketegangan akibat penderitaan yang sama-sama mereka tanggung. Aya merasa terkhianati, sementara Tama dipenuhi rasa bersalah yang menusuk.
Malam itu, setelah berhasil menidurkan si kembar dengan tambahan sufor yang harganya paling terjangkau, Tama duduk di lantai kamar, menyandarkan punggungnya ke dinding. Wajahnya tertutup kedua tangan, bahunya terguncang pelan.
Aya mendekat, duduk di sampingnya. Amarahnya perlahan mereda, digantikan rasa kasihan yang mendalam melihat suaminya mencapai batas kelelahan emosional. Ia menyadari, Tama juga korban dari tuntutan yang tidak realistis.
"Tama, jangan begini," bisik Aya, menyentuh lengan suaminya.
Tama menurunkan tangannya, matanya merah dan berkaca-kaca. Ia menatap Aya dengan pandangan yang penuh rasa bersalah.
"Aku minta maaf, Sayang. Aku benar-benar minta maaf," ucap Tama, suaranya serak. "Aku tahu aku merusak perhitungan kita. Aku tahu aku membahayakan Alif dan Arif dengan menunda vaksinasi mereka. Aku ... aku tidak seharusnya mentransfer uang itu."
Aya memeluknya erat. "Aku tahu kamu kesulitan, Tam. Aku tidak menyalahkanmu. Tapi aku tidak mengerti. Kenapa kamu tidak bisa menolak Ibumu?"
Pertanyaan Aya membuka pintu air mata Tama. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menjelaskan beban yang telah ia pikul sejak kecil.
"Kamu tidak mengerti bagaimana Ibu memandangku, Ay," Tama memulai. "Sejak Ayah meninggal, aku adalah satu-satunya anak laki-laki. Anak sulung. Ibu Ajeng selalu menanamkan dalam pikiranku: 'Kamu sekarang adalah kepala keluarga. Kamu harus menggantikan posisi Ayahmu. Masa depan adik-adikmu ada di tanganmu.'"
Tama menjelaskan, Ajeng tidak pernah benar-benar bekerja keras setelah suaminya meninggal, melainkan mengandalkan asuransi dan peninggalan seadanya, sambil menekan Tama untuk menjadi sumber finansial utama keluarga. Ketika Tama mendapat pekerjaan bagus dan gajinya mulai stabil, Ajeng melihatnya sebagai aset permanen, bukan anak yang kini memiliki keluarga sendiri.
"Baginya, gajiku ini bukan cuma untuk aku dan kamu. Tapi untuk rumah itu, untuk pendidikan Rita, untuk uang jajan Tari, untuk segala kebutuhan mereka. Kalau aku menolak, Ibu tidak hanya marah, dia akan menggunakan air mata. Dia akan bilang, 'Kamu lupa semua pengorbanan Ibu membesarkanmu sendirian? Kamu tega melihat adik-adikmu putus sekolah?'"
Tama menunduk, air mata jatuh membasahi lantai. "Aku tidak sekuat itu untuk menahan rasa bersalah, Ay. Apalagi jika Ibu menggunakan nama Ayah. Rasanya aku menjadi anak durhaka, Ay. Aku takut sekali."
Aya mendengarkan dengan hati remuk. Ia melihat betapa Tama terperangkap dalam jebakan emosional ibunya. Ajeng telah mengikat Tama dengan tali kewajiban yang tidak realistis dan rasa bersalah yang mendalam.
"Aku tahu, Sayang. Tapi kamu juga punya kewajiban baru, yang lebih utama," kata Aya lembut, memegang wajah Tama agar menatapnya. "Alif dan Arif. Mereka prioritas utama, Tam. Kewajiban itu tidak bisa dinegosiasikan. Jika Rita dikeluarkan dari kampus, itu adalah tanggung jawab Ibu Ajeng, bukan kamu. Jika kita tidak bisa membeli s**u formula atau vaksin, itu nyawa anak kita!"
Tama mengangguk, namun tatapannya masih menunjukkan keraguan. "Aku tahu, Ay. Demi Tuhan, aku mencintai anak-anak kita lebih dari apa pun. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara memutus rantai ini. Setiap kali Ibu Ajeng menelepon, aku merasa seperti ditarik kembali ke masa kecil, di mana aku harus selalu berkata 'iya' untuk menjadi anak yang baik."
"Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu dan anak-anak. Aku ingin kamu hidup tenang, Ay, tidak perlu stres karena uang. Itu sebabnya aku melarang kamu bekerja di luar rumah," ujar Tama, kembali ke topik awal. "Aku ingin menanggung semuanya. Aku janji, aku akan bekerja lebih keras lagi. Aku akan mencari freelance sampai subuh."
Aya tahu, Tama berusaha menjadi pahlawan yang sempurna. Tapi ia juga tahu, pahlawan itu akan kelelahan dan roboh sebentar lagi.
"Aku menghargai usahamu, Tam. Tapi kamu manusia. Kamu punya batas," kata Aya. "Kamu tidak bisa menanggung beban rumah tangga kita, beban ibu dan adik-adikmu, dan kelelahan begadang mengurus si kembar, sekaligus."