Puncaknya terjadi saat Ajeng, didampingi Rita, nekat datang berkunjung ke kontrakan kecil mereka. Kunjungan ini terasa seperti misi militer, bukan silaturahmi. Ajeng datang dengan membawa bingkisan—sepotong kecil kue dari toko mahal. Saat Aya sedang menyusui si kembar, Ajeng dengan sengaja memulai topik ini di hadapan Aya. "Aya, coba lihat ini. Ini kue dari toko terkenal. Maharani baru saja merayakan promosi, dan dia mentraktir kue ini ke semua teman-teman kantor Tama," kata Ajeng, sengaja meletakkan kotak kue mahal itu di dekat kemasan Dapur Aya yang sederhana. Rita segera menimpali, menatap Aya dengan tatapan meremehkan. "Iya, Kak Aya. Kak Maharani itu memang beda. Dia sudah kaya dari lahir, tapi tetap rajin kerja. Beda banget sama kita, ya, yang baru bisa jualan kue rumahan." "K

