"Kamu pikir aku tidak ingin melihatmu sukses?! Aku adalah orang yang paling mendukungmu, Tama! Tapi apa 'sukses' itu harus dibayar dengan penghinaan terhadapku?!" Aya menangis, menunjuk dirinya sendiri. "Kamu harus lebih sabar, Ay! Kamu harus lebih berkorban!" bentak Tama. "Demi keutuhan keluarga, kamu harus mengalah! Aku anak sulung, Ay! Kalau aku tidak memenuhi permintaan Ibu, dia akan sakit! Aku tidak mau dosa anak durhaka menimpaku! Kenapa kamu tidak bisa sedikit saja menahan egomu, dan biarkan Ibu tenang?" Kalimat "kamu harus lebih sabar dan berkorban demi keutuhan keluarga" adalah titik didih sesungguhnya bagi Aya. Selama ini, hanya dia yang berkorban—karier, waktu tidur, nutrisi, hingga harga diri. Dan sekarang, Tama menuntutnya untuk mengorbankan perasaannya demi Ajeng. "Aku

