Namun, Maharani segera meredam rasa bersalah itu dengan kata-kata yang membius. "Jangan merasa bersalah, Tama. Kamu pantas bahagia. Lagipula, kamu sudah lama tidak mendapatkan kehangatan. Istri yang baik seharusnya mendukungmu, bukan membebani dan menuntut. Kita hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh dua orang dewasa yang saling menghargai dan mendukung." Maharani mengubah perselingkuhan menjadi transaksi emosional dan dukungan timbal balik. Ia tidak menyebutnya perselingkuhan; ia menyebutnya mendapatkan hak yang seharusnya Tama miliki. Sejak malam itu, perselingkuhan Tama dan Maharani menjadi rahasia yang mengikat mereka. Tama kini terjebak di antara dua wanita: Aya (Istri dan Ibu Anak-anaknya): Yang mewakili komitmen, perjuangan, kesusahan, dan rasa bersalah. Mahar

