Keputusan Aya untuk kembali ke kontrakan, membawa serta si kembar, adalah tindakan kalkulasi yang dingin, bukan romantisme. Ia tahu, tinggal serumah adalah risiko besar bagi kesehatan mentalnya, tetapi ini adalah satu-satunya cara untuk memantau pengkhianatan Tama dan mengamankan posisi finansial anak-anaknya. Kontrakan kecil itu kini terasa seperti ruang isolasi, tempat Aya menjalani penderitaan ganda: kelelahan fisik akibat mengurus kembar sendirian, dan rasa sakit emosional akibat pengkhianatan suami. Rutinitas harian Aya adalah siklus yang sangat brutal, di mana waktu istirahat adalah kemewahan yang tidak pernah ia dapatkan. Setiap hari dimulai jauh sebelum matahari terbit, sekitar pukul 03.30 pagi. Lampu dapur adalah satu-satunya sumber cahaya yang menemani Aya meracik adonan

