Bab 74. Sugar Brondong

1653 Kata

Arda POV “Ayo, Sayang.” Kuulurkan tangan kiri karena Tifa memang berdiri di sebelah kiriku. Kami sudah berada di depan teras rumah ibu Siti Komariyah yang luar biasa keras hatinya. Namun, aku tetap berdoa semoga Tuhan melembutkan hatinya kali ini. Dengan satu cincin bertahta berlian, meskipun berliannya tidak sebesar punya Tifa. Tifa menoleh, menatapku ragu. Kuraih telapak tangannya lalu kugenggam. Aku tersenyum. Berharap senyumku bisa membuat ketegangan di wajahnya menghilang. Dia adalah anak kandung bu Siti, namun dia terlihat begitu takut untuk masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan ibunya sendiri. “Ayo.” Kutarik pelan tangan Tifa hingga ia akhirnya melangkah. Tangan istriku terasa dingin. Kami berjalan bersama ke teras rumah. Pintu rumah masih tertutup. Mungkin tidak ada yang mend

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN