Vanila duduk di kursi seberang meja kerja Nathan. Ruangannya rapi, penuh dengan buku yang tersusun rapat di rak kayu. Aroma kopi hitam tercium samar. Nathan membuka laptopnya, lalu memutar layar sedikit agar Vanila bisa melihat. “Kita mulai dari bab metodologi. Aku sudah menandai bagian yang perlu penyesuaian sesuai format universitas ini.” Vanila mengangguk, matanya mengikuti kursor Nathan yang bergerak. “Tidak terlalu banyak perubahan,” lanjutnya. “Tapi aku ingin kamu tambahkan referensi terbaru di sini dan di sini.” Ia menyerahkan sebuah buku tebal ke Vanila. “Ini bisa jadi sumber tambahan. Kamu boleh pinjam selama perlu.” Vanila menerima buku itu. “Terima kasih, Doktor.” Nathan tersenyum. “Panggil saya Nathan saja. Kita akan sering bertemu, jadi tidak perlu terlalu formal.” “Ba

